Ad imageAd image

Aroma Arang di Tengah Riuh Festival: Kisah Panjang Pak Slamet Menjaga Sagon Wonosobo

Lintas Topik Author
41 Views
5 Min Read
oplus_2

Wonosobo (Lintas Topik .com)— Di antara riuhnya Festival Kuliner Legend di Gedung Sasana Adipura Kencana, satu aroma menguar paling kuat di udara: wangi kelapa panggang yang bercampur manis gula.

Di tengah kerumunan pengunjung yang sibuk berburu kudapan khas Wonosobo, seorang lelaki duduk bersila di depan tungku kecil.

Tangan tuanya cekatan menata adonan ke loyang bundar, sementara bara api menyala di atas dan bawah loyang.

Itulah Pak Slamet, sosok yang sejak pagi tak henti dikerumuni pengunjung karena sagon buatannya cepat habis.

Pada hari pertama festival, ia menghabiskan 10 kilogram adonan. Di hari kedua, jumlah itu melonjak menjadi 20 kilogram—angka yang hampir tak pernah lagi ia sentuh ketika berjualan di pasar.

“Rame banget mas. Kayak dulu waktu pasar masih ramai,” ujarnya tersenyum, matanya berbinar meski tangan terus bekerja.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Namun riuh festival hanyalah potongan kecil dari perjalanan panjang yang penuh naik turun dalam hidupnya.

Dibesarkan oleh Pasar dan Sepasang Tangan Keras

Di balik kepulan asap tungku di festival itu, tersimpan kisah seorang anak yang pulang sekolahnya bukan ke rumah, melainkan ke pasar. Slamet kecil sudah membantu ibunya, Mbah Karso Utomo, sejak duduk di bangku SMP.

Ibunya mulai berjualan sagon sekitar tahun 1950-an, ketika Pasar Lama Wonosobo masih menjadi pusat ekonomi yang hiruk-pikuk.

Setiap sudut pasar penuh suara, dan lapak keluarga ini menjadi salah satu yang terkenal dengan sagon gurih manis yang dimasak di atas bara.

Dari ibunya itulah Pak Slamet belajar kerja keras.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Belajar bahwa sagon bukan hanya adonan kelapa dan tepung ketan—melainkan nafkah.

1979: Saat Sagon Menjadi Hidupnya

Tahun 1979, setelah bertahun-tahun hanya membantu, Pak Slamet resmi turun tangan sebagai pedagang utama.

Ia memasuki dunia yang keras—pasar dengan ritme yang tidak pernah menunggu siapa pun.

Ia masih ingat betul masa-masa itu: pembeli datang tanpa henti, loyang tak pernah benar-benar dingin, dan sagon yang dimasaknya bisa menghabiskan 10 kilogram bahan baku per hari.

Di masa itu, ia juga menjadi saksi bagaimana pasar berulang kali dilalap api.

“Sudah empat kali pasar kebakaran. Yang paling besar dulu sampai deket alun-alun,” kenangnya.

Setiap kali pasar pindah, ia ikut pindah.

Setiap kali kios roboh, ia membangun lagi.

Setiap kali bara padam, ia menyalakan kembali.

Naik Turun Zaman, Naik Turun Harga

Jika ada yang tahu bagaimana waktu mengubah ekonomi rakyat, salah satunya adalah Pak Slamet.

Ia tahu benar perjalanan harga sagon sejak masa ibunya menjual seharga tiga ringgit (Rp7,5) per buah.

Saat ia mulai berjualan mandiri, sagon dijual Rp500.

Sekarang harga per potong sekitar Rp6.000, itu pun margin keuntungannya tipis.

“Harga beras sama bahan lain sekarang naiknya gak kira-kira, mas,” ujarnya sambil memindahkan bara di atas loyang. “Kadang harga bahan tiga sampai lima kali lipat dari harga jual sagon.”

Tapi ia tetap mempertahankan metode memasak tradisional dengan arang kayu.

Karena baginya, rasa sagon ada pada kesetiaan pada cara lama.

Dari 40 Kilo Sehari ke Tiga Kilo Saja

Pernah ada masa ketika keluarga ini bisa menghabiskan 40 kilogram tepung ketan per hari.

Masa ketika pasar menjadi pusat kehidupan, bukan sekadar tempat belanja.

Namun seiring hadirnya jajanan modern dan berubahnya pola konsumsi, angka itu menyusut drastis.

Kini, di lapak kecil lantai empat Pasar Induk Wonosobo, ia hanya mengolah 3 hingga 5 kilogram bahan baku per hari.

“Pokoknya harus telaten mas kalau jualan di pasar induk sekarang. Ramainya tidak seperti dulu,” katanya sambil tetap tersenyum.

Ia pernah mencoba membuka cabang di emperan Jalan Angkatan 45, berharap pembeli lebih ramai. Tapi nyatanya justru sepi dan tutup.

Pada akhirnya, ia kembali ke tempat yang ia kenal: pasar.

Sagon Panas, Kisah yang Lebih Hangat

Di festival, orang-orang antre. Banyak yang baru pertama kali mencicipi sagon. Banyak juga yang datang karena nostalgia.

Sagon buatan Pak Slamet selalu disajikan panas, tekstur luar renyah tapi dalamnya lembut.

Setiap gigitan membawa cerita tentang:

tradisi, ketelatenan, dan keteguhan seseorang yang memilih bertahan ketika zaman berubah.

Sagon itu bukan sekadar makanan—ia adalah warisan.

Warisan yang Masih Menunggu Penerus

Saat ditanya apakah anaknya akan meneruskan usaha ini, ia hanya tersenyum.

“Ya kadang bantu. Tapi belum ada yang bener-bener mau nerusin,” katanya pelan.

Ia tak memaksa. Ia hanya terus datang ke pasar, menyalakan tungku, dan membuat sagon seperti ibunya dulu.

Selama bara masih menyala di loyangnya, tradisi itu belum benar-benar padam.

Dan di tengah riuh festival kuliner kemarin, di antara cahaya lampu dan musik panggung, aroma sagon Pak Slamet membuktikan satu hal:***

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment