Wonosobo (Lintas Topik.com)— Penggunaan benih biji atau true seed of welsh onion (TSWO) mulai menjadi perhatian serius di Wonosobol.
Inovasi ini dinilai lebih unggul dibanding bibit anakan yang selama bertahun-tahun dipakai petani bawang daun.
Selama ini petani menggandalkan anakan sebanyak 4 ton per hektare. Selain boros biaya—mencapai Rp40–60 juta per hektare—anakan juga rentan membawa patogen dari musim sebelumnya.
Masalah ini membuat penggunaan pestisida meningkat dan menurunkan kesehatan tanaman.
Keuntungan Menggunakan Benih Biji
Ketua Tim Riset Bawang Daun BRIN, Dr. Retno Pangestuti, menjelaskan bahwa benih biji memberikan banyak keuntungan.
Benih tumbuh dari kondisi bersih, bebas patogen, lebih sehat, dan umumnya membutuhkan pestisida lebih sedikit.
Kebutuhan benih juga jauh lebih efisien, hanya 3–4 kilogram per hektare dengan harga Rp1,5–2 juta per kilogram.
Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Wonosobo mencatat uji lapangan penggunaan benih biji selama 2024–2025 menunjukkan hasil positif.
Benih biji bawang daun mampu tumbuh adaptif pada ketinggian 700–1400 mdpl dan diterima petani karena performanya stabil.
Pada musim hujan tahun ini, pertumbuhan tetap baik dengan penggunaan pestisida hanya dua kali hingga umur enam minggu.
Pengembangan benih biji ini sejalan dengan hadirnya dua varietas unggul lokal Wonosobo yang telah ditetapkan BRIN, yaitu Meland 1 dan Banyumudal 1.
Meland 1 berasal dari Desa Mlandi, Kecamatan Garung, dengan produktivitas 24–27 ton per hektare.
Sedangkan Banyumudal 1 dari Kecamatan Sapuran memiliki daun tebal, tahan simpan, dan berpotensi menghasilkan 42–47 ton per hektare.
Komoditas Unggulan Wonosobo
Bawang daun menjadi komoditas hortikultura unggulan Wonosobo dengan nilai ekonomi mencapai Rp300–600 juta setiap hari.
Pemerintah daerah melihat peluang besar dari penggunaan benih biji karena dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kualitas panen.
Dalam pertemuan di Pendopo Wonosobo pada 2 Desember 2025, Bupati Wonosobo H. Afif Nurhidayat menyampaikan apresiasi atas pendampingan BRIN dalam riset komoditas lokal.
BRIN juga menyerahkan sertifikat pendaftaran varietas lokal Meland 1 dan Banyumudal 1 sebagai dukungan terhadap pengembangan benih di daerah.
UPTD Balai Benih Pertanian bersama mitra swasta, CV Citra Mandiri Utama, menyatakan kesiapan memproduksi benih biji bawang daun secara komersial.
BRIN menilai kolaborasi ini sebagai langkah hilirisasi riset yang dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Dengan keunggulan yang lebih efisien dan lebih sehat, benih biji bawang daun diproyeksikan menjadi terobosan baru bagi petani Wonosobo dalam mengembangkan komoditas bawang daun yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi daerah.***
Editor : Agus Hidayat







