Wonosobo ( LintasTopik.com )– Pemerintah Kabupaten Wonosobo menetapkan status tanggap darurat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Sumbing yang meluas sejak Senin (19/10/2026). Status tersebut ditetapkan untuk mempercepat penanganan kebakaran sekaligus membuka dukungan bantuan dari pemerintah provinsi hingga pusat.
Kebakaran yang melanda lereng Gunung Sumbing itu berdampak pada area sekitar 306 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 140 hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
Upaya pemadaman masih menghadapi kendala berupa angin kencang dan medan terjal dengan kemiringan mencapai 80 derajat. Kondisi tersebut menyulitkan petugas menjangkau sejumlah titik api.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, keselamatan petugas dan masyarakat menjadi prioritas dalam penanganan karhutla. Ia juga mengapresiasi seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran, termasuk proses evakuasi pendaki.
Pada Senin malam (19/10), tim gabungan berhasil mengevakuasi 152 pendaki dari Gunung Sumbing dalam kondisi selamat. Sebagai langkah pencegahan, seluruh jalur pendakian ditutup sementara hingga situasi dinyatakan aman.
180 Personel Gabungan Dikerahkan
Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja selaku incident commander memimpin pengerahan 180 personel gabungan yang dibagi dalam enam pleton.
Dua pleton difokuskan ke wilayah Banyumudal untuk menangani area terdampak sekitar 70 hektare. Sementara itu, empat pleton lainnya melakukan penyekatan dan mitigasi guna mencegah api meluas ke lahan pertanian maupun permukiman warga.
Kepolisian juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kebakaran. Polisi menyatakan akan mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum apabila ditemukan unsur kelalaian atau kesengajaan.
Untuk mendukung operasi di lapangan, Penjabat Sekretaris Daerah Wonosobo Mohamad Kristijadi menyampaikan bahwa dapur umum dan posko kesehatan telah disiapkan. Organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga diminta mendukung kebutuhan logistik dan sarana penanganan kebakaran.
Water Bombing Masih Dikaji
Sementara itu, opsi pemadaman melalui udara atau water bombing masih dipertimbangkan. Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan mengatakan, penggunaan helikopter akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kemungkinan teknis untuk menjangkau wilayah terdampak.
“Kita mendorong helikopter yang ada untuk bisa masuk ke sini. Kita akan melihat situasi lebih lanjut. Jika potensinya memungkinkan pada medan dan wilayah ekstrem seperti ini, opsi pemadaman udara (water bombing) akan kita lakukan,” kata Roy.
Hingga Rabu (21/10/2026), titik api dilaporkan belum mencapai permukiman maupun lahan pertanian warga. Masyarakat, khususnya petani di kawasan lereng Gunung Sumbing, diimbau tidak membersihkan lahan dengan cara membakar.
Pusat koordinasi penanganan karhutla dipusatkan di Basecamp Sumbing via Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar.







