Wonosobo (Lintas Topik.com) — Pemerintah Kabupaten Wonosobo menutup sementara Jalan Lingkar Sumbing (Jalisu) setelah hasil pemantauan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menemukan tujuh titik rawan longsor di sepanjang jalur tersebut.
Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi demi keselamatan masyarakat.
Penutupan Jalan Lingkar Sumbing diberlakukan sejak 16 Januari hingga 20 Februari 2026.
Kebijakan ini diambil menyusul kondisi konstruksi jalan yang masih baru dan dinilai belum sepenuhnya stabil, terutama pada segmen-segmen yang berada di lereng perbukitan.
Kepala DPUPR Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menyampaikan bahwa dari hasil evaluasi lapangan, terdapat sekitar tujuh titik yang berpotensi mengalami longsor.
Titik-titik tersebut berada pada area galian dan timbunan yang masih labil.
“Dari hasil identifikasi kami, ada kurang lebih tujuh titik yang rawan longsor dan perlu penanganan khusus,” kata Nurudin, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, Jalan Lingkar Sumbing merupakan jalan baru sepanjang 3,3 kilometer yang dibangun melalui program Inpres Jalan tahun 2025.
Proses pembangunannya memerlukan pemotongan bukit di sejumlah titik, menyesuaikan karakter geografis Wonosobo yang berada di kawasan pegunungan.
“Daerah kita daerah pegunungan, jadi dalam pembangunan jalan baru ini harus dilakukan penggalian bukit. Kond
isi tanahnya masih baru,” ujarnya.
Menurut Nurudin, curah hujan yang tinggi turut meningkatkan risiko pergerakan tanah.
Lereng-lereng yang baru terbuka belum memiliki penguat alami seperti vegetasi, sehingga potensi longsor masih cukup besar.
Selama ini, DPUPR telah melakukan penanganan sementara berupa pembersihan material longsor dan pemasangan rambu peringatan di lokasi-lokasi rawan.
Namun, langkah tersebut belum dianggap cukup untuk menjamin keamanan pengguna jalan.
“Kalau ada longsor, pasti kita bersihkan dan kita tangani. Tapi untuk keselamatan, jalan sementara harus ditutup,” jelasnya.
Selain faktor keselamatan, tingginya minat masyarakat mengunjungi Jalisu juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Jalur ini belakangan ramai dikunjungi karena panorama alam Gunung Sumbing yang menarik.
“Kami khawatir animo masyarakat tinggi, tapi berhadapan langsung dengan risiko longsor,” tambahnya.
Ke depan, pemerintah daerah berencana melakukan penanaman vegetasi penahan erosi serta pembangunan senderan di titik-titik rawan. Penutupan jalan dilakukan hingga seluruh pekerjaan teknis tersebut dinyatakan aman.
Di sisi lain, Pemkab Wonosobo juga melihat potensi pengembangan kawasan Jalisu sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.
Aktivitas ekonomi warga seperti UMKM olahan lokal dan produk kopi mulai tumbuh di sekitar jalur tersebut.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap rencana pengembangan kawasan.***
Editor : Agus Hidayat







