Wonosobo (Lintas Topik.com) – Di tengah hawa sejuk lereng Kalikajar, sekelompok petani Dusun Larangan, Desa Maduretno, berhasil memetik hasil dari kerja keras dan inovasi mereka. Kelompok Tani Al-Arif kini menikmati hasil panen seledri yang ditanam dengan sistem green house, sebuah langkah maju menuju pertanian modern yang lebih efisien dan menguntungkan.
Suasana cerah pagi itu menjadi saksi keberhasilan para petani saat Camat Kalikajar Aldhiana Kusumawati, Kepala Desa Maduretno Subadi, sejumlah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta mitra kelompok tani Umar Yusuf turut hadir menyaksikan panen seledri di green house milik kelompok tani tersebut.
Camat Kalikajar, Aldhiana Kusumawati, mengapresiasi semangat dan inovasi para petani yang tak berhenti mencari cara baru untuk meningkatkan hasil pertanian.
“Wilayah Dusun Larangan punya potensi besar dalam pengembangan hortikultura. Model budidaya sayuran melalui green house adalah terobosan yang baik karena hasilnya bisa berlipat, sementara ongkos produksi dapat ditekan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak kecamatan akan terus mendorong petani agar tidak terpaku pada cara tradisional. Dengan kondisi lahan yang subur dan iklim yang mendukung, peluang untuk mengembangkan komoditas hortikultura sangat terbuka lebar.
Dari Coba-Coba Jadi Panen Berkelanjutan
Ketua Kelompok Tani Al-Arif, Mustakim, menceritakan bahwa budidaya seledri ini mulai dilakukan sejak Agustus 2025 dengan tiga model penanaman: green house, bedengan terbuka, dan demplot. Dari ketiganya, sistem green house terbukti memberikan hasil terbaik.
Green house yang digunakan berukuran 8 x 8 meter dan mampu menampung sekitar 1.200 batang seledri. Panen perdana dilakukan pada akhir Oktober 2025 dengan hasil 77 kilogram, saat harga seledri masih Rp3.500 per kilogram.
“Seledri bisa dipanen setiap 35 hingga 40 hari, tapi kalau ditanam di green house, panennya bisa lebih cepat. Dari panen pertama ke berikutnya hanya butuh waktu 10–15 hari,” jelas Mustakim.
Panen Berkali-kali, Untung Berlipat
Anggota kelompok, Suji, menuturkan bahwa sekali tanam, seledri bisa dipanen hingga 15 kali tergantung dari pemeliharaan dan pemupukan.
“Harga seledri cukup bervariasi. Dulu Rp3.500 per kilo, sekarang bisa sampai Rp7.000, bahkan di masa puncak bisa tembus Rp10.000. Harga normal di kisaran Rp5.000 pun petani masih untung,” katanya dengan senyum puas.
Prospek Cerah Seledri Kalikajar
Sementara itu, Umar Yusuf, mitra Kelompok Tani Al-Arif, menilai budidaya seledri di Kalikajar sangat prospektif mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu sentra tanaman hortikultura.
“Kuncinya ada di benih yang sesuai iklim, lahan subur, dan perawatan yang rutin. Seledri membutuhkan tanah dengan drainase baik, pupuk organik, serta sinar matahari cukup,” jelasnya.
Ia menambahkan, baik penanaman di bedengan maupun di green house memerlukan perhatian pada penyiraman dan penyiangan gulma. Pemupukan yang seimbang akan mempercepat pertumbuhan dan memperbanyak hasil panen.
Inovasi Kecil, Dampak Besar
Kisah Kelompok Tani Al-Arif menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu harus besar dan mahal. Dengan semangat belajar dan kerja sama, para petani Dusun Larangan berhasil membuktikan bahwa sistem pertanian modern bisa diterapkan bahkan di desa.
Green house sederhana mereka bukan sekadar tempat menanam, tetapi simbol perubahan cara berpikir: dari bertani seadanya menuju bertani yang terencana, efisien, dan menguntungkan.***
Editor : Agus Hidayat







