Ad imageAd image

Produktivitas Merosot, Petani Bawang Daun Banyumudal Disarankan Beralih ke Benih Biji

Lintas Topik Author
20 Views
5 Min Read
oplus_2

Wonosobo (Lintas Topik.com) — Di lereng-lereng Banyumudal Kecamatan Sapuran Wonosobo, petani bawang daun masih bekerja dengan pola yang sama seperti dua puluh tahun lalu.

Bibit lokal—yang disebut loncang—ditanam berulang-ulang, musim demi musim.

Tidak ada yang salah dengan tradisi itu, setidaknya ketika tanah masih subur dan penyakit belum banyak menyerang. Pada awal tahun 2000-an, lahan mampu menghasilkan 30 hingga 40 ton per hektare, angka yang kini tinggal kenangan.

Eka Mardiana, praktisi pertanian yang puluhan kali turun ke ladang-ladang petani Banyumudal, mengingat jelas masa kejayaan tersebut.

“Dulu tanah masih perawan, bibit masih sehat. Sekarang bibitnya sudah terlalu lama dipakai, penyakitnya ikut diwariskan,” katanya saat ditemui pada Sabtu (29/11).

Bibit Vegetatif: Murah di Depan, Mahal di Belakang

- Advertisement -
Ad imageAd image

Masalah terbesar datang dari satu titik: bibit vegetatif yang digunakan terus-menerus.

Setiap hektare membutuhkan sekitar empat ton bibit—angka yang menyedot biaya besar.

Lebih berat lagi, penyakit yang melekat pada bibit tak pernah putus dari satu musim ke musim berikutnya.

Akibatnya, petani kini terpaksa menyemprot pestisida hampir setiap tiga hari sekali. Biaya produksi pun melambung hingga lebih dari Rp100 juta per hektare.

“Kalau bibitnya sudah sakit, tanaman mau tidak mau harus diselamatkan pakai pestisida. Itu yang membuat ongkos produksi gila-gilaan,” ujar Eka.

Dampaknya tidak hanya dirasakan petani. Dari sisi kesehatan pangan, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Pola semprot intensif membuka risiko residual pest (sisa pestisida) menempel pada produk bawang daun yang masuk ke pasar.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Bibit yang tidak sehat pada akhirnya memaksa petani memakai bahan kimia lebih banyak, dan itu berpotensi terbawa hingga ke dapur konsumen jika tidak dikelola dengan benar.

Di sisi lain, ekonomi bawang daun Banyumudal sesungguhnya sangat besar. Puluhan truk keluar setiap hari, menghasilkan ratusan juta rupiah.

Namun kerentanan selalu mengintai: biaya produksi yang tinggi membuat petani sangat rentan rugi saat gagal panen.

Ketika Kebutuhan Bibit dan Kebutuhan Pangan Bertabrakan

Pemakaian bibit vegetatif dalam jumlah besar menciptakan masalah lain yang tak kalah serius.

Karena satu hektare membutuhkan hingga empat ton bibit, maka pada musim tanam tertentu kebutuhan bibit dan kebutuhan konsumsi bersaing di pasar yang sama.

Ketika ini terjadi, harga bawang daun melambung—bukan karena permintaan konsumsi meningkat, tetapi karena petani harus membeli bawang untuk dijadikan bibit.

Dalam kondisi tertentu, pasar bisa mengalami distorsi: bahan pangan yang seharusnya masuk konsumsi malah ditarik menjadi bibit dalam jumlah besar.

Akhirnya harga naik, konsumen tertekan, dan petani justru mengeluarkan biaya lebih besar untuk memulai tanam.

Masalah ini tidak akan selesai tanpa inovasi pada sumber bibitnya.

Benih Biji: Teknologi Baru yang Mulai Mengubah Cerita

Di tengah persoalan itu, Eka bersama BRIN melakukan riset pemurnian varietas lokal Banyumudal menggunakan teknologi True Seed Shallot (TSS)—benih dari biji, bukan bibit vegetatif.

Secara ekonomi, selisihnya sangat jauh: kebutuhan bibit turun drastis dari empat ton menjadi hanya tiga hingga empat kilogram per hektare.

Namun keunggulan terbesar bukan hanya pada ongkos, tetapi pada kesehatan tanaman. Benih dari biji memutus rantai penyakit yang selama bertahun-tahun membebani petani.

“Kalau dari biji, penyakit bawaan hampir nol. Tanaman lebih sehat, pestisida jauh lebih irit,” jelas Eka.

Varietas yang sedang diuji juga menunjukkan karakter unggul: umurnya lebih genjah—panen 60–70 hari—dan toleran terhadap cuaca hujan.

Tanaman mampu tumbuh hingga ketinggian 1.400 mdpl, membuka peluang ekspansi ke wilayah Mlandi, Garung, hingga Kejajar.

Dengan bibit sehat, ancaman residual pest dapat ditekan, dan kualitas pangan yang sampai ke konsumen meningkat. Bibit sehat bukan hanya soal produktivitas, tapi juga soal keamanan pangan.

Perubahan Besar di Tangan Petani Muda

Namun perubahan tidak selalu mudah. Kebiasaan menggunakan bibit lokal sudah mengakar kuat.

Generasi tua memilih bertahan pada pola yang mereka yakini.

Eka sadar, masa depan bawang daun Banyumudal berada di tangan petani muda—generasi yang lebih terbuka pada teknologi baru dan berani mencoba pola tanam berbeda.

Ia juga mendorong pemerintah daerah memperkenalkan sistem rotasi tanaman dan zonasi komoditas—bawang daun, kentang, hingga sayuran lain—untuk memulihkan kualitas tanah yang semakin tertekan.

“Perbaikan bibit tidak bisa dipisahkan dari perbaikan tanah. Dua-duanya harus berjalan bareng,” tegasnya.

Di tengah harapan dan tantangan itu, Banyumudal berdiri di persimpangan: mempertahankan cara lama dengan risiko yang semakin besar, atau menjemput teknologi baru yang menawarkan masa depan lebih stabil.

Yang pasti, masa keemasan bawang daun tidak akan kembali dengan sendirinya—ia harus diperjuangkan dari akar, dari tanah yang dipulihkan, dan dari bibit yang benar-benar sehat.***

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment