Lintas Topik – Tradisi balon udara di Wonosobo bermula sekitar pertengahan 1920-an, saat seorang ahli pangkas rambut dan seniman bernama Atmo Goper (1898-1978) memperkenalkan balon udara buatannya kepada masyarakat.
Atmo, yang juga seorang pengrajin lampion dan sangkar burung, mendapatkan inspirasi dari balon udara berpenumpang yang pernah mendarat di Alun-alun Wonosobo pada masa mudanya.
Balon pertama yang dibuatnya menggunakan kombinasi kertas pilus dan kertas payung. Percobaan pertama dilakukan di depan Mushola Krakal Tamanan, disaksikan oleh warga setempat.
Sejak saat itu, tradisi menerbangkan balon udara terus berkembang dan menjadi ajang tahunan yang selalu dinantikan oleh masyarakat.
Jika pada awalnya balon udara hanya berbentuk sederhana dan polos, kini desainnya telah berkembang pesat.
Perubahan ini terutama terjadi setelah era 1990-an, saat penggunaan kertas minyak mulai populer.
Dengan bahan ini, warna dan motif balon menjadi lebih beragam, memberi peluang bagi para pengrajin untuk menciptakan desain yang lebih artistik.
Perkembangan desain balon udara dari masa ke masa:
- 1920-an – 1950-an: Balon dibuat dari kertas pilus dan payung dengan desain sederhana, cenderung polos tanpa pola yang mencolok.
- 1970-an: Muncul balon plastik yang lebih praktis, meski tetap didominasi warna polos. Balon plastik digunakan untuk menguji arah angin sebelum menerbangkan balon besar.
- 1990-an: Penggunaan kertas minyak mulai populer, memungkinkan desain balon lebih berwarna dan tahan api.
- 2000-an: Balon udara mulai dihiasi dengan motif batik, simbol daerah, hingga karakter wayang dan hewan. Ukurannya pun semakin besar, dengan diameter mencapai 5-7 meter.
- 2010-an: Balon raksasa dengan bentuk unik mulai bermunculan. Tidak hanya berbentuk bulat, kini ada balon berbentuk kepala tokoh, burung garuda, hingga naga.
- 2020-an hingga sekarang: Balon udara Wonosobo berkembang menjadi trendsetter dengan desain 3D, motif kombinasi warna lebih kompleks, serta teknologi LED untuk mempercantik tampilan saat malam hari.
Saat ini, balon udara di Wonosobo tidak hanya menjadi bagian dari tradisi lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan dari luar daerah.
Setiap tahunnya, ajang Festival Balon Udara Wonosobo menjadi magnet bagi para pecinta balon udara dan wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan langit penuh warna.
Balon Udara Wonosobo sebagai Trendsetter
Popularitas balon udara Wonosobo semakin meningkat, menjadikannya sebagai trendsetter dalam dunia balon udara di Indonesia.
Hal ini terlihat dari semakin banyaknya daerah lain yang mengadopsi konsep balon udara tradisional Wonosobo, seperti di Pekalongan, Ponorogo, dan Magelang.
Yang membuat balon udara Wonosobo unik dan unggul adalah:
- Desain yang semakin inovatif, dengan bentuk 3D, motif batik, hingga karakter khas Indonesia.
- Ukuran yang semakin besar, beberapa balon bahkan mencapai diameter lebih dari 10 meter.
- Adopsi konsep ramah lingkungan, dengan bahan yang lebih aman dan teknik pelepasan balon yang mengikuti regulasi penerbangan.
Saat ini, Festival Balon Udara Wonosobo menjadi salah satu agenda tahunan yang selalu ditunggu.
Selain sebagai ajang kompetisi bagi para pengrajin balon, festival ini juga menjadi daya tarik wisata yang mendongkrak perekonomian lokal.
Editor : Agus Hidayat