Ad imageAd image

Tour de Wonosobo: Gowes SelJum dan Kayuhan Nurani Melawan Korupsi

Lintas Topik Author
80 Views
4 Min Read

Wonosobo (Lintas Topik.com) —

Di bawah hujan yang tak henti turun, lima pesepeda dari komunitas Gowes Happy SelJum mengayuh sepeda menyusuri jalur Yogyakarta–Wonosobo.

Mereka tidak sedang mengejar rekor atau destinasi wisata. Setiap kayuhan justru menjadi bahasa nurani—sebuah cara sederhana namun berani untuk menyuarakan perlawanan terhadap korupsi yang kian menggerogoti sendi kehidupan bangsa.

Safari bersepeda bertajuk Tour de Wonosobo yang berlangsung Minggu–Senin, 14–15 Desember 2025, bukan sekadar perjalanan fisik.

Ia adalah perjalanan moral. Momentum Hari Anti Korupsi Sedunia (9 Desember) dijadikan pijakan untuk menegaskan bahwa melawan korupsi bukan hanya tugas negara, melainkan tanggung jawab seluruh warga.

Dipimpin oleh Hary Sutrasno, bersama Effendi, Wintono, Ahmad Riyatno, dan Waluyo, rombongan ini mengayuh sepeda bukan demi prestasi, bukan pula demi sensasi.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Mereka membawa spanduk dan brosur berisi pesan sederhana namun mendalam: Indonesia yang sehat hanya mungkin lahir dari kejujuran.

“Korupsi di negeri ini sudah berada pada tahap yang mengerikan. Ia mengakar, menyebar, dan merusak hampir semua sendi kehidupan,” ujar Hary Sutrasno di sela perjalanan.

“Lewat safari bersepeda ini, kami ingin ikut menjadi bagian dari masyarakat sipil yang menyerukan penyehatan Indonesia.”

Di Yogyakarta, budaya bersepeda memang kembali menggeliat. Jalan-jalan kota dipenuhi pesepeda lintas usia, pagi hingga sore hari.

Namun bagi komunitas ini, gowes tidak berhenti pada urusan rekreasi atau kesehatan pribadi.

Tour de Wonosobo melangkah lebih jauh—menjadikan sepeda sebagai medium advokasi sosial.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Effendi, yang menjadi koordinator misi, menyebut bersepeda sebagai wujud syukur atas nikmat sehat. “Kali ini kami ingin kesehatan itu melampaui tubuh kami sendiri. Kami ingin negeri ini juga sehat,” katanya.

Penyakit kronis bangsa—korupsi—menjadi sasaran utama kayuhan mereka.

Sepanjang rute menuju Wonosobo, termasuk kawasan wisata Candi Borobudur, pesan anti korupsi mendapat respons positif.

Di warung-warung tempat rombongan beristirahat, brosur dibaca dengan antusias. Spanduk yang dibentangkan menarik perhatian warga dan wisatawan.

Tidak ada mimbar megah atau pidato panjang—yang ada hanyalah dialog sederhana, dari hati ke hati.

Sambutan serupa terjadi saat perjalanan pulang. Di Masjid Al Manshur, Wonosobo, jamaah tidak hanya menyimak, tetapi juga memberikan dukungan moral.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Manshur, KH Ahmad Chaedar Idris, mengingatkan bahwa perjuangan melawan korupsi memang panjang dan berat, namun tidak boleh berhenti.

“Jangan lupa juga amal-amal konkret di sekitar kita—menyantuni anak yatim dan kaum lemah,” pesannya.

Di Masjid Raya Darussalam, Temanggung, dialog singkat kembali menegaskan bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kejahatan kemanusiaan.

Hary Sutrasno mengurai dampaknya secara lugas: meningkatnya kemiskinan, ketimpangan sosial, pengangguran, merosotnya layanan publik, hingga naiknya angka kematian ibu dan anak.

“Korupsi membuat hidup semakin mahal dan semakin jauh dari jangkauan masyarakat miskin,” tegasnya.

Lebih dari kampanye moral, para pesepeda ini juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran hukum.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2018, warga yang berperan dalam pencegahan dan pengungkapan tindak pidana korupsi berhak memperoleh perlindungan serta penghargaan dari negara.

Melawan korupsi bukan tindakan sia-sia—ia dijamin oleh hukum.

Tour de Wonosobo akhirnya mencapai garis akhir. Namun pesannya tidak berhenti di sana.

Di tengah pesimisme publik terhadap pemberantasan korupsi, lima pesepeda ini menghadirkan harapan kecil namun nyata: perubahan dapat dimulai dari hal sederhana—dari tubuh yang bergerak dan keberanian bersuara.

Sepeda mereka mungkin tidak mengubah sistem dalam sekejap. Namun setiap kayuhan adalah pengingat bahwa bangsa ini masih memiliki warga yang peduli, yang rela basah oleh hujan dan lelah oleh tanjakan demi satu cita-cita bersama: Indonesia yang bersih, adil, dan bermartabat.

Kadang, perubahan besar memang tidak lahir dari ruang rapat berpendingin udara. Ia lahir dari jalanan, dari peluh, dan dari keberanian mengayuh melawan arus.***

Editor: Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment