Wonosobo (Lintas Topik.com) – Festival Kuliner Legend Wonosobo resmi ditutup Minggu (23/11/2025) malam dengan capaian transaksi Rp150 juta.
Ribuan pengunjung memadati Gedung Sasana Adipura selama tiga hari gelaran untuk mencicipi kuliner-kuliner legendaris dari berbagai penjuru Wonosobo.
Acara yang digagas Komunitas Jurnalis Wonosobo (KJW) ini ditutup oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mewakili Bupati Afif Nurhidayat.
Dalam penutupannya, Fahmi menyampaikan bahwa festival ini tidak hanya menawarkan nostalgia rasa, tetapi juga memberi dampak ekonomi nyata bagi UMKM kuliner.
“Wonosobo dikenal sebagai daerah wisata, dan kuliner adalah sarana pendukung yang tidak bisa ditinggalkan,” ujarnya.
Ia menyebut total transaksi mencapai Rp150 juta, capaian yang disebut memberikan dorongan signifikan bagi para pelaku kuliner.
Antusiasme pengunjung selama tiga hari membuat seluruh stand peserta kebanjiran pembeli.
Tahun ini, sebanyak 18 stand mengikuti event tersebut.
Di antaranya Saoto Sapi Kuali Mbah Sumarsono Bumiroso, Bubur Kacang Ijo Prapatan Poltas Pak Slamet, Sayalal Mie Sosis, Mie Ayam Giyo Kalierang, Ronde Klangenan Pak Kumis, Brongkos Warung Biru Pojok, hingga Sagon Pak Slamet Pasar Induk.
Setiap stand menyajikan ciri khas masing-masing yang sudah bertahan puluhan tahun.
Ketua Panitia Festival, Agus Supriyadi, menjelaskan bahwa proses kurasi peserta dilakukan untuk memastikan kuliner yang tampil benar-benar memiliki sejarah panjang dan reputasi kuat di masyarakat.
“Kami memilih 18 stand yang sudah melegenda. Mereka adalah pelaku kuliner yang sejak dulu menjaga rasa, menjaga cerita, dan tetap eksis hingga sekarang,” katanya.
Menurut Agus, festival tahun ini tidak hanya sebagai ajang jualan, tetapi ruang pelestarian budaya kuliner yang menjadi identitas Wonosobo.
“Lewat festival ini, generasi muda bisa mengenal, mencintai, dan meneruskan kekayaan kuliner lokal,” tambahnya.
Dampak positif itu juga dirasakan langsung oleh para pedagang. Margono, pemilik Saoto Sapi Mbah Marsono, mencatat 1.100 porsi terjual selama gelaran.
“Jauh lebih ramai dibandingkan jualan di warung,” ujarnya.
Hal serupa dialami Anang, penjual Bubur Kacang Ijo Prapatan, yang menjual sekitar 1.000 porsi.
“Paling ramai hari Sabtu, stok habis sore,” katanya.
Bagi sebagian pedagang, festival ini bukan hanya soal omzet. Donsu, penjual Kupat Tahu, menyebut acara ini membuka peluang bertemu pelanggan baru.
“Banyak wajah baru beli di sini. Sekaligus jadi promosi yang bagus,” ungkapnya.
Selama tiga hari, puluhan ribu warga datang ke Gedung Sasana Adipura Kencana.
Selain menikmati kuliner, pengunjung juga disuguhkan berbagai acara pendukung seperti lomba mewarnai PAUD–SD, lomba foto, pertunjukan musik, dan kesenian tradisional yang membuat suasana festival semakin hidup.***
Editor : Agus Hidayat







