Wonosobo ( Lintas Topik.com)–Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan bagian dari tradisi panjang masyarakat Tionghoa yang dirayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di balik identitasnya sebagai perayaan budaya, Imlek memiliki latar sejarah, nilai simbolik, serta dinamika sosial yang terdokumentasi dalam berbagai sumber sejarah dan kebijakan negara.
Berikut lima fakta tentang Imlek
1.Berakar dari Tradisi Agraris Tiongkok Kuno
Tahun Baru Imlek, yang secara internasional dikenal sebagai Chinese New Year, diyakini telah berkembang sejak periode awal peradaban Tiongkok kuno.
Sejumlah literatur sejarah mencatat bahwa perayaan pergantian tahun dalam kalender lunar sudah dilakukan sejak era Dinasti Shang (sekitar 1600–1046 SM).
Pada masa itu, masyarakat agraris menggelar ritual penghormatan kepada leluhur dan memohon hasil panen yang baik.
Seiring waktu, praktik ritual tersebut berkembang menjadi perayaan sosial dan budaya yang lebih luas.
2. Penanggalan Menggunakan Kalender Lunar
Imlek tidak mengikuti kalender Masehi, melainkan sistem kalender lunar (kalender bulan).
Karena itu, tanggal perayaannya berubah setiap tahun dalam rentang akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Perayaan ini menandai awal musim semi dalam tradisi Tiongkok dan dikenal juga sebagai Festival Musim Semi atau Spring Festival.
3. Perayaan Berlangsung Hingga 15 Hari
Secara tradisional, rangkaian perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari dan ditutup dengan Festival Lampion (di Indonesia dikenal sebagai Cap Go Meh).
Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh berlangsung meriah di sejumlah daerah, khususnya di daerah daerah yang memiliki jumlah etnis Tionghoa cukup banyak.
Salah satunya di Singkawang, Kalimantan Barat, yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan budaya Tionghoa terbesar di Asia Tenggara.
4. Warna Merah dan Simbol Keberuntungan
Penggunaan warna merah, lampion, serta amplop angpao memiliki makna simbolik dalam budaya Tionghoa.
Dalam cerita rakyat Tiongkok, dikenal legenda makhluk bernama Nian yang konon takut pada warna merah dan suara keras.
Meski merupakan bagian dari folklor, kisah ini sering dikaitkan dengan asal-usul tradisi penggunaan warna merah dan petasan dalam perayaan Imlek.
Secara simbolis, merah melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan dalam budaya Tionghoa.
5. Imlek Pernah Dibatasi dan Kini Menjadi Hari Libur Nasional
Dalam sejarah Indonesia, perayaan Imlek pernah mengalami pembatasan ekspresi budaya pada masa Orde Baru.
Perubahan terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut berbagai pembatasan terhadap ekspresi budaya Tionghoa.
Selanjutnya, pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003.
Kebijakan tersebut menjadi tonggak penting dalam pengakuan keragaman budaya di Indonesia.
Imlek bukan hanya perayaan pergantian tahun dalam kalender lunar, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang telah berkembang selama berabad-abad.
Dalam konteks Indonesia, perayaan ini juga mencerminkan dinamika sejarah dan perjalanan pengakuan terhadap keberagaman budaya.***
Editor : Agus Hidayat







