Wonowobo ( Lintas Topik.com) –Suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar bersahut-sahutan dari ruang-ruang belajar di Pondok Pesantren Al-Qur’an (PPQ) Safiinatunnaja, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo.
Di pesantren yang tumbuh dari majelis kecil ini, para santri tidak hanya belajar menghafal Al-Qur’an atau memahami kitab kuning, tetapi juga ditempa untuk menjadi penyampai risalah Islam yang mampu berdakwah dengan cara yang santun dan mencerahkan.
Pesantren yang berdiri sejak 2006 ini bermula dari kegiatan sederhana Majelis Ta’lim An-Naja yang diperuntukkan bagi anak-anak di lingkungan Mekarsari, Kalibeber.
Atas arahan para ulama sepuh, KH. Muntaha al-Hafidz dan KH. Muhammad Zain, majelis tersebut kemudian dikembangkan menjadi pondok pesantren yang secara khusus mendalami ilmu-ilmu Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik Islam.
Amanah pengembangan pesantren itu berada di tangan pengasuhnya, KH. Arifin Shidiq.
Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah, dan pesantren pun berkembang dari tempat belajar sederhana di ndalem pengasuh menjadi lembaga pendidikan yang semakin terstruktur.
Awalnya para santri yang mukim masih menempati beberapa kamar di rumah pengasuh.
Namun dorongan para wali santri membuat pesantren perlahan menambah fasilitas asrama.
Minat masyarakat yang terus meningkat juga didukung oleh lingkungan pendidikan di sekitar pesantren yang cukup lengkap, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Dalam perjalanannya, PPQ Safiinatunnaja tidak hanya melayani santri yang bersekolah di lembaga pendidikan formal.
Sebagian santri memilih fokus mendalami ilmu agama dengan sistem salaf melalui kajian kitab-kitab turats.
Untuk menjawab kebutuhan santri agar tetap memiliki jalur pendidikan formal yang diakui negara, pesantren ini kemudian membuka Pendidikan Diniyah Formal (PDF).
Pada tahun 2024, PPQ Safiinatunnaja resmi mendapatkan izin dari Kementerian Agama untuk menyelenggarakan pendidikan berbasis formal.
Setahun kemudian, tepatnya pada 2025, pendidikan tersebut mulai berjalan dengan dua jenjang, yakni PDF Wustha setara SLTP dan PDF Ulya setara SLTA.
Saat ini, jumlah santri yang mengikuti program Pendidikan Diniyah Formal tercatat sekitar 40 siswa yang dibimbing oleh sekitar 20 ustadz.
Mereka mengikuti pembelajaran yang menggabungkan sistem pendidikan pesantren dengan struktur pendidikan formal.
Pengasuh PPQ Safiinatunnaja, KH. Ngarifin Shidiq, mengatakan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya bertujuan melahirkan santri yang paham kitab atau hafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada masyarakat.
“Santri harus siap menjadi penyampai risalah dakwah yang baik. Mereka tidak cukup hanya paham isi kitab yang dipelajari, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menyampaikannya,” ujar Arifin.
Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya dengan pengetahuan yang mendalam, tetapi juga harus disampaikan dengan pendekatan yang tepat.
“Dakwah bisa disampaikan dengan cara bil hikmah wal mauidzatil hasanah, dengan cara yang santun, bijak, dan mencerahkan,” tambahnya.
Untuk itu, PPQ Safiinatunnaja mengembangkan pola pendidikan holistik integratif berbasis Al-Qur’an. Model pendidikan ini dirancang agar para santri tidak hanya menguasai ilmu agama (al-‘ulum al-diniyyah), tetapi juga memiliki pengetahuan umum (al-‘ulum al-‘aqliyah).
Pendekatan tersebut bertujuan agar para santri berkembang secara utuh—baik dari sisi spiritual, intelektual, mental, maupun keterampilan praktis.
Salah satu kemampuan yang juga mendapat perhatian adalah public speaking. Para santri dilatih untuk berani berbicara di depan publik sebagai bekal dakwah di tengah masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, pesantren ini juga menyadari pentingnya penguasaan teknologi informasi.
Menurut Arifin, santri harus mampu beradaptasi dengan perkembangan era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak.
“Di era digital dan artificial intelligence ini, santri juga harus menguasai teknologi informasi secara baik, benar, dan beradab,” katanya.
Kehidupan pesantren juga tetap menjaga tradisi keilmuan klasik. Program tahfidzul Qur’an menjadi salah satu unggulan yang terus dikembangkan.
Selain itu, para santri juga mengikuti kegiatan Madrasah Diniyah dengan kajian kitab-kitab turats melalui metode bandongan dan sorogan yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren.
Bagi pengasuh pesantren, bulan Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat pembinaan spiritual dan karakter santri.
Namun kegiatan di pesantren tidak hanya diisi dengan ibadah dan pengajian kitab.
“Semarak Ramadan di PPQ Safiinatunnaja tidak hanya diisi dengan ibadah dan ngaji kitab kuning yang merupakan kurikulum wajib bagi santri, tetapi juga dengan proses belajar yang memperkuat karakter dan kesiapan santri untuk mengabdi di tengah masyarakat,” jelas Arifin .
Ia berharap para santri nantinya tidak hanya menjadi ahli ilmu agama, tetapi juga mampu hadir sebagai bagian dari solusi di tengah masyarakat yang terus berubah.
Dengan perpaduan antara tradisi pesantren, pendidikan formal, serta penguatan karakter dan keterampilan dakwah, PPQ Safiinatunnaja berupaya menyiapkan generasi santri yang siap menghadapi dinamika zaman—tanpa kehilangan akar nilai-nilai Al-Qur’an yang menjadi fondasi utama pendidikan mereka.***
Editor : Agus Hidayat







