Ad imageAd image

Cegah Krisis Air dan Longsor, Ratusan Pohon Damar Ditanam di Jalur Lingkar Sumbing

Lintas Topik Author
5 Min Read
Sebanyak 200 pohon ditanam di jalur lingkar Sumbing sebagai upaya untuk menghijaukan kawasan tersebut. ( dok. Diskominfo Wonosobo).

WONOSOBO – Kekhawatiran akan berkurangnya debit mata air dan ancaman longsor di kawasan lereng pegunungan mendorong berbagai elemen masyarakat bergerak bersama melakukan penghijauan di Jalur Lingkar Sumbing (Jalisu), Dusun Cengklok, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar.

 Sebanyak 200 bibit pohon damar disiapkan untuk ditanam sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan di sepanjang jalur baru yang kini menjadi akses penting bagi aktivitas ekonomi warga.

Kegiatan penanaman yang berlangsung Rabu (20/5/2026) itu melibatkan Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Bagian Perekonomian Setda, Komunitas Tanpa Nama, Relawan Penanggulangan Bencana (RPB), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo, Forkopimcam Kalikajar, serta sejumlah pegiat lingkungan.

Pada tahap awal, dilakukan penanaman simbolis sebanyak 25 pohon damar. Sementara ratusan bibit lainnya akan ditanam secara bertahap pada musim penghujan mendatang, antara Oktober hingga Maret, agar tingkat keberhasilan tumbuh tanaman lebih optimal.

Bagi masyarakat Kalikajar, keberadaan Jalisu bukan sekadar jalan baru. Jalur yang membelah kawasan perbukitan itu diharapkan mampu memperlancar distribusi hasil pertanian, membuka akses antarwilayah, sekaligus mendukung pengembangan wisata alam. 

Namun di balik manfaat tersebut, muncul tanggung jawab menjaga kawasan agar tidak kehilangan fungsi ekologisnya.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Camat Kalikajar Hermawan Animoro menegaskan pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

“Jalan baru ini diharapkan menjadi salah satu pendongkrak perekonomian masyarakat sekitar karena mempermudah distribusi hasil pertanian dan akses warga. Jangan sampai dengan adanya pembukaan jalan Jalisu ini justru merusak lingkungan. Karena itu, kelestarian alam di sekitarnya harus tetap dijaga,” ujarnya.

Menurut Hermawan, penanaman pohon memiliki peran penting sebagai konservasi tanah dan air, sekaligus membantu memperkuat struktur lahan di sejumlah titik yang berpotensi mengalami longsor.

“Hari ini kita melaksanakan penanaman pohon di seputaran Jalisu atau Jalur Lingkar Simbing. Tujuannya untuk melestarikan lingkungan agar tetap terjaga sekaligus menjadi penahan tanah karena Jalisu merupakan jalan baru,” katanya.

Ia berharap gerakan penghijauan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan terus berlanjut sehingga kawasan Jalisu tetap menjadi ruang hijau yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Keresahan serupa disampaikan Ketua Komunitas Tanpa Nama Wonosobo, Sriono Edy Subekti. Menurutnya, penurunan kualitas lingkungan di kawasan hulu menjadi alarm yang tidak bisa diabaikan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Ia mengaku khawatir berkurangnya vegetasi di daerah resapan akan berdampak pada menurunnya debit sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kebutuhan masyarakat.

“Kalau tidak ada upaya penyelamatan, kami khawatir ke depan terjadi krisis air bersih di wilayah sekitar,” ungkapnya.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, Komunitas Tanpa Nama secara rutin menggelar kegiatan konservasi setiap pekan. 

Komunitaas Tanpa Nama menginisiasi kegiatan penanaman 200 pohon tanaman keras di Jalan Lingkar Sumbing. ( dok. Diskominfo Wonosobo)

Tidak hanya menanam, mereka juga melakukan pemeliharaan berbagai jenis pohon seperti beringin, gondang, manglit, kantil, hingga bambu betung di sejumlah kawasan resapan air di Kecamatan Kalikajar.

Khusus di kawasan Jalisu, pohon damar dipilih karena dinilai sesuai dengan karakter lingkungan sekitar.

 Selain memiliki perakaran yang kuat untuk mengikat tanah dan menyimpan air, tajuk pohon damar juga tidak terlalu lebar sehingga tidak mengganggu lahan pertanian milik warga di sepanjang jalur tersebut.

“Kami memilih damar karena percabangannya tidak terlalu rindang sehingga tidak mengganggu lahan pertanian masyarakat. Selain itu, damar juga memiliki akar yang kuat untuk membantu mengikat tanah dan air,” jelas Sriono.

Ia menambahkan, kegiatan kali ini merupakan penanaman ketiga yang dilakukan di kawasan Jalisu

 Sebelumnya, komunitas tersebut telah menanam sekitar 100 pohon damar di lokasi yang sama. Dengan tambahan 200 bibit tahun ini, total pohon damar yang akan menghijaukan kawasan Jalisu mencapai 300 batang.

Namun bagi Sriono, keberhasilan penghijauan tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari berapa banyak pohon yang mampu bertahan hidup hingga tumbuh besar.

“Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi bagaimana memastikan pohon itu hidup dan dirawat. Teman-teman Tanpa Nama memiliki komitmen bahwa setiap tanaman yang sudah ditanam harus dijaga dan dipastikan selamat,” tegasnya.

Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas lingkungan, relawan, dan masyarakat, kawasan Jalisu diharapkan tidak hanya menjadi jalur penghubung yang mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tetap berfungsi sebagai benteng ekologis yang menjaga ketersediaan air, mengurangi risiko longsor, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang. ***

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment