Bournemouth (Lintas Topik.com) – Ketika peluit panjang berbunyi di Vitality Stadium pada Selasa (19/5/2026) malam, para pendukung Bournemouth bersorak.
Hasil imbang 1-1 melawan Manchester City tidak hanya menjadi pencapaian penting bagi tim kesayangan mereka, tetapi juga memastikan Arsenal mengunci gelar Liga Primer Inggris musim 2025/2026.
Di balik hasil yang mengubah peta persaingan juara tersebut, tersimpan kisah luar biasa tentang sebuah klub yang pernah nyaris bangkrut dan selama puluhan tahun hidup di kasta bawah sepak bola Inggris.
Bagi penggemar sepak bola modern, nama AFC Bournemouth mungkin sudah tidak asing lagi. Klub berjuluk The Cherries itu dalam beberapa musim terakhir menjadi salah satu peserta tetap Liga Primer Inggris dan kerap merepotkan tim-tim besar.
Namun jika dibandingkan dengan klub-klub elite seperti Manchester United, Liverpool, Arsenal, atau Manchester City, Bournemouth adalah pendatang baru dalam peta kekuatan sepak bola Inggris.
Klub ini berdiri pada tahun 1899 dengan nama Boscombe FC. Seiring perjalanan waktu, namanya berubah menjadi Bournemouth and Boscombe Athletic sebelum akhirnya resmi menggunakan nama AFC Bournemouth pada tahun 1971.
Berbeda dengan klub-klub besar yang telah lama menghuni kasta tertinggi, Bournemouth menghabiskan sebagian besar sejarahnya di divisi ketiga dan keempat sepak bola Inggris.
Mereka bukan klub yang akrab dengan gelar juara atau sorotan media nasional. Selama puluhan tahun, Bournemouth lebih dikenal sebagai klub komunitas dari kota pesisir Bournemouth di wilayah Dorset, Inggris Selatan.
Bermarkas di Stadion Terkecil Premier League
Salah satu identitas yang masih melekat hingga sekarang adalah markas mereka yang relatif kecil.
Bournemouth bermain di Vitality Stadium, stadion yang terletak di kawasan Kings Park, Kota Bournemouth, Dorset. Stadion yang sebelumnya dikenal sebagai Dean Court tersebut telah menjadi rumah Bournemouth sejak tahun 1910.
Dengan kapasitas hanya sekitar 11.307 penonton, Vitality Stadium menjadi stadion terkecil yang digunakan klub peserta Liga Primer Inggris musim 2025/2026.
Sebagai perbandingan, kapasitas stadion tersebut bahkan tidak mencapai seperempat dari Emirates Stadium milik Arsenal maupun Etihad Stadium milik Manchester City.
Meski kecil, stadion itu menjadi saksi perjalanan panjang Bournemouth dari klub kasta bawah hingga mampu bersaing di kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.
Nyaris Bangkrut dan Hampir Hilang dari Sepak Bola Profesional
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Bournemouth pernah berada di ambang kehancuran.
Pada periode 2008–2009, klub mengalami krisis keuangan serius yang membuat mereka masuk administrasi keuangan. Akibat masalah tersebut, Bournemouth mendapat hukuman pengurangan poin dan terancam terdegradasi lebih jauh.
Saat itu banyak pengamat memperkirakan Bournemouth akan kesulitan bertahan sebagai klub profesional.
Kondisi keuangan yang buruk membuat masa depan klub tampak suram. Namun dukungan suporter, pengelolaan yang lebih baik, dan kerja keras seluruh elemen klub berhasil menyelamatkan Bournemouth dari kehancuran.
Apa yang terjadi setelahnya menjadi salah satu kisah kebangkitan paling mengesankan dalam sepak bola Inggris modern.
Eddie Howe dan Kisah Dongeng Bournemouth
Nama yang paling identik dengan kebangkitan Bournemouth adalah Eddie Howe.
Mantan pemain Bournemouth tersebut dipercaya menangani tim ketika klub sedang berjuang keluar dari krisis.
Dengan sumber daya yang jauh lebih kecil dibanding klub-klub pesaing, Howe membangun tim yang disiplin, agresif, dan berani memainkan sepak bola menyerang.
Hasilnya luar biasa.
Dalam waktu relatif singkat Bournemouth berhasil promosi dari League Two ke League One, kemudian naik ke Championship, sebelum akhirnya menembus Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada musim 2015/2016.
Perjalanan tersebut kerap disebut sebagai salah satu kisah dongeng terbesar dalam sepak bola Inggris era modern.
Dari klub yang hampir bangkrut menjadi peserta kompetisi terbaik di dunia.
Kini Bernilai Lebih dari Rp9 Triliun
Perkembangan Bournemouth tidak hanya terlihat dari prestasi di lapangan.
Menurut data Transfermarkt musim 2025/2026, total nilai pasar skuad Bournemouth mencapai sekitar €507 juta atau setara lebih dari Rp9 triliun.
Nilai tersebut memang masih berada di bawah klub-klub elite Liga Primer Inggris, tetapi menunjukkan betapa pesat perkembangan Bournemouth dalam satu dekade terakhir.
Skuad mereka kini dihuni sejumlah pemain internasional dengan rata-rata usia yang relatif muda, mencerminkan strategi klub yang berfokus pada pengembangan talenta dan investasi jangka panjang.
Bagi klub yang pernah kesulitan membayar operasional sehari-hari, angka tersebut menjadi gambaran nyata tentang transformasi yang telah mereka lakukan.
Musim Terbaik dalam Sejarah Klub
Musim 2025/2026 bisa disebut sebagai musim terbaik dalam sejarah Bournemouth.
Di bawah pelatih Andoni Iraola, The Cherries tampil konsisten sepanjang musim dan mampu bersaing dengan klub-klub papan atas.
Hingga pekan ke-37, Bournemouth menempati posisi keenam klasemen Liga Primer Inggris dengan koleksi 56 poin. Posisi tersebut menempatkan mereka di atas sejumlah klub besar yang memiliki sejarah dan anggaran jauh lebih besar.
Lebih istimewa lagi, Bournemouth telah memastikan diri tampil di kompetisi Eropa musim depan untuk pertama kalinya sejak klub berdiri pada 1899.
Setidaknya, mereka telah mengamankan tiket menuju UEFA Conference League. Bahkan peluang untuk tampil di UEFA Europa League masih terbuka bergantung pada hasil pertandingan terakhir musim ini dan distribusi slot kompetisi Eropa.
Bagi klub yang pernah berjuang menghindari kebangkrutan, pencapaian tersebut terasa hampir mustahil dibayangkan satu dekade lalu.
Satu Poin yang Mengubah Sejarah
Peran Bournemouth dalam perebutan gelar Liga Primer musim ini mungkin akan selalu dikenang para pendukung Arsenal.
Menghadapi Manchester City yang masih berusaha mempertahankan peluang juara, Bournemouth tampil tanpa rasa takut. Mereka mampu mengimbangi permainan tim asuhan Pep Guardiola dan memaksa pertandingan berakhir dengan skor 1-1.
Tambahan satu poin itu membuat Manchester City kehilangan kesempatan mengejar Arsenal di puncak klasemen.
Di London Utara, para pendukung Arsenal merayakan berakhirnya penantian gelar selama 22 tahun.
Sementara di Bournemouth, hasil tersebut menjadi simbol perjalanan panjang sebuah klub yang pernah hidup dalam ketidakpastian, bermarkas di stadion berkapasitas hanya 11 ribu penonton, dan selama puluhan tahun berkutat di kasta bawah sepak bola Inggris.
Kini Bournemouth bukan lagi sekadar klub kecil dari kota pantai di Dorset.
Mereka telah menjelma menjadi salah satu kisah sukses paling menginspirasi dalam sepak bola Inggris modern.
Dan pada malam ketika Arsenal memastikan diri menjadi juara Liga Primer Inggris, klub kecil berjuluk The Cherries itu ikut menorehkan namanya dalam salah satu cerita terbesar musim ini. ***
Editor : Agus Hidayat
