Wonosobo (LintasTopik.com) — Sejumlah titik fasilitas publik di Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) dinilai belum memenuhi standar aksesibilitas bagi mahasiswa difabel, berdasarkan hasil asesmen awal yang dilakukan pada 9 Desember 2025.
Temuan utama mencakup jalur mobilitas kursi roda yang belum merata, akses menuju ruang administrasi yang masih menyulitkan pengguna, serta belum tersedianya alat bantu layanan bagi mahasiswa tuli seperti Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam kegiatan akademik.
Kondisi ini dikuatkan oleh pengalaman langsung mahasiswa disabilitas tuli UNSIQ, Fadia Ahda Sabila, yang menilai kebutuhan layanan inklusif masih belum terpenuhi.
“Kami sangat membutuhkan JBI dalam kegiatan penting seperti bimbingan akademik dan sidang tugas akhir,” ujarnya.
Terkait temuan tersebut, Wakil Rektor III UNSIQ, Dr. M. Elfan Kaukab, menyatakan pihak kampus menyambut baik asesmen yang dilakukan dan berkomitmen melakukan perbaikan bertahap.
“Hasil asesmen ini akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi perbaikan sesuai prioritas institusi. UNSIQ berkomitmen meningkatkan aksesibilitas gedung dan layanan kemahasiswaan serta memperluas dialog dengan komunitas disabilitas,” tegasnya.
Asesmen dilakukan oleh pemuda disabilitas HWDI DPC Wonosobo bersama Fakultas Teknik UNSIQ dalam rangkaian Program Inklusi Berdaya.
Tim teknik melakukan pengukuran teknis seperti standar kemiringan ramp dan tangga, sementara pemuda disabilitas memberikan evaluasi berbasis pengalaman sebagai pengguna fasilitas.
Kegiatan diawali pembekalan terkait standar aksesibilitas, pemutaran video edukasi interaksi dengan penyandang disabilitas, serta praktik bahasa isyarat dasar yang diikuti mahasiswa dan dosen.
Inisiator kegiatan sekaligus perwakilan Pemuda Inklusi, Ahmad Hafid, berharap kampus melibatkan mahasiswa secara lebih aktif.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat sebagai relawan dan teman belajar bagi mahasiswa disabilitas. UNSIQ adalah rumah bagi semua,” katanya.
Hasil asesmen selanjutnya akan dirangkum menjadi rekomendasi resmi yang diharapkan dapat menjadi praktik baik bagi perguruan tinggi lain di Jawa Tengah.
Kegiatan ini menegaskan bahwa inklusi tidak hanya menyangkut perbaikan sarana fisik, tetapi juga budaya pelayanan dan kolaborasi yang berkelanjutan.***
Editor : Agus Hidayat







