Wonosobo ( Lintas Topik.com)–Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan dominasi warna merah dan pertunjukan barongsai.
Dua simbol ini hampir selalu hadir dalam setiap perayaan, baik di Tiongkok maupun di berbagai negara termasuk Indonesia.
Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat sejarah panjang dan makna filosofis yang telah diwariskan selama ribuan tahun.
Berawal dari Legenda Nian
Dalam tradisi Tiongkok kuno, terdapat legenda tentang makhluk buas bernama Nian. Konon, setiap akhir tahun makhluk tersebut muncul dan mengganggu penduduk desa.
Masyarakat kemudian menemukan bahwa Nian takut pada tiga hal: warna merah, api, dan suara keras. Sejak saat itu, warga menghias rumah dengan kain merah, menyalakan petasan, serta menyalakan lampu terang untuk mengusir makhluk tersebut.
Legenda ini diyakini menjadi salah satu asal-usul penggunaan warna merah dalam perayaan Tahun Baru Imlek, yang dalam bahasa Mandarin dikenal sebagai Chunjie atau Festival Musim Semi.
Makna Warna Merah
Dalam budaya Tiongkok, merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Warna ini juga dipercaya mampu menangkal energi negatif.
Karena itu, hampir seluruh dekorasi Imlek menggunakan warna merah, mulai dari lampion, hiasan pintu, hingga amplop angpao. Masyarakat meyakini penggunaan warna merah membawa harapan baik di tahun yang baru.
Sejarah dan Filosofi Barongsai
Selain warna merah, barongsai menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek. Tarian singa ini telah dikenal sejak masa Dinasti Utara-Selatan sekitar abad ke-4 hingga ke-6 Masehi.
Dalam kepercayaan masyarakat Tiongkok, singa dianggap sebagai simbol kekuatan dan pelindung.
Pertunjukan barongsai yang diiringi tabuhan tambur dan simbal dipercaya dapat mengusir roh jahat serta membawa keberuntungan.
Tradisi barongsai biasanya ditampilkan di rumah-rumah, tempat usaha, hingga pusat perbelanjaan sebagai simbol doa agar usaha berjalan lancar dan rezeki meningkat.
Perkembangan di Indonesia
Di Indonesia, perayaan Imlek sempat mengalami pembatasan pada masa Orde Baru. Perubahan signifikan terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan ekspresi budaya Tionghoa.
Selanjutnya, pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional mulai 2003.
Kini perayaan Imlek berlangsung terbuka di berbagai daerah seperti Jakarta, Semarang, dan Singkawang, yang dikenal sebagai salah satu pusat perayaan Imlek terbesar di Indonesia.
Simbol Harapan dan Awal Baru
Secara umum, penggunaan warna merah dan pertunjukan barongsai tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga mencerminkan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Imlek menjadi momentum untuk mempererat hubungan keluarga, berbagi rezeki, serta memulai tahun baru dengan semangat optimisme.
Dengan sejarah panjang dan makna yang mendalam, warna merah dan barongsai bukan sekadar simbol kemeriahan, melainkan bagian dari warisan budaya yang terus hidup hingga kini.***
Editor : Agus Hidayat







