Monterrey (Lintas Topik.com)–Ketika para pemain Swedia berhamburan merayakan gol pembuka ke gawang Tunisia pada laga Grup F Piala Dunia 2026, satu sosok justru menunjukkan reaksi berbeda.
Yasin Ayari tidak berlari ke sudut lapangan, tidak pula melakukan selebrasi berlebihan seperti yang lazim dilakukan pemain setelah mencetak gol di panggung terbesar sepak bola dunia.
Gelandang berusia 22 tahun itu mengangkat kedua tangannya, lalu bersujud di atas rumput stadion.
Momen singkat tersebut segera menjadi sorotan. Bukan hanya karena gol itu membuka jalan kemenangan Swedia 5-1 atas Tunisia, tetapi juga karena ada kisah pribadi yang menyertainya.
Ayari bukan sekadar pemain Swedia yang kebetulan mencetak gol ke gawang Tunisia. Ia adalah putra seorang ayah asal Tunisia yang sejak kecil tumbuh dengan dua identitas budaya berbeda.
Lahir di Solna, Swedia, pada 6 Oktober 2003, Ayari merupakan anak dari pasangan keturunan Tunisia dan Maroko.
Meski besar di Swedia dan meniti seluruh karier sepak bolanya di negara tersebut, hubungan dengan akar keluarganya tetap terjaga. Karena itulah laga melawan Tunisia memiliki arti yang jauh lebih emosional dibanding pertandingan biasa.
Beberapa tahun lalu, Tunisia bahkan sempat berharap Ayari bersedia membela tim nasional mereka.
Dengan darah Tunisia yang mengalir dari sang ayah, ia memiliki hak untuk mengenakan jersey Elang Kartago.
Namun pada akhirnya Ayari memilih Swedia, negara tempat ia lahir, tumbuh, dan mengembangkan karier sepak bolanya.
Pilihan itu tidak pernah menghapus kedekatannya dengan Tunisia.
Karena itulah ketika bola hasil sepakannya bersarang di gawang Tunisia, Ayari memilih menunjukkan rasa hormat dibanding meluapkan kegembiraan.
Gestur mengangkat tangan yang ia lakukan setelah gol pertama dipahami banyak pihak sebagai bentuk penghormatan kepada negara leluhur keluarganya.
Sujud yang menyusul setelahnya menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan. Di tengah atmosfer kompetisi Piala Dunia yang penuh rivalitas, Ayari memperlihatkan bahwa sepak bola juga memiliki sisi kemanusiaan yang tidak selalu tercermin dalam papan skor.
Momen itu dengan cepat menyebar di media sosial dan mendapat perhatian media internasional.
Banyak yang melihatnya sebagai gambaran dilema yang kerap dihadapi para pemain diaspora modern: ketika karier membawa mereka membela satu negara, sementara akar keluarga mereka berasal dari negara lain.
Di balik kisah emosional tersebut, performa Ayari di lapangan juga layak mendapat pujian.
Pemain Brighton & Hove Albion itu tampil impresif sepanjang pertandingan. Selain membuka keunggulan Swedia, ia juga mencetak gol kedua pada penghujung laga melalui tendangan jarak jauh yang tak mampu dihentikan kiper Tunisia.
Menariknya, ekspresi Ayari pada gol kedua terlihat berbeda. Setelah memastikan kemenangan telak Swedia, ia tampak lebih lepas merayakannya bersama rekan-rekan setim.
Beban emosional yang menyertai gol pertama seolah telah terlewati.
Penampilan tersebut sekaligus mempertegas status Ayari sebagai salah satu wajah baru sepak bola Swedia.
Di tengah generasi yang dihuni nama-nama besar seperti Alexander Isak dan Viktor Gyokeres, Ayari mulai menunjukkan bahwa dirinya layak diperhitungkan sebagai motor lini tengah tim berjuluk Blågult itu.
Namun dari semua cerita yang lahir pada malam kemenangan Swedia atas Tunisia, mungkin bukan dua golnya yang akan paling lama dikenang publik.
Yang akan terus diingat adalah momen ketika seorang pemain muda berdarah Tunisia memilih bersujud setelah menjebol gawang negeri leluhurnya.
Sebuah pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk Piala Dunia, ada kisah identitas, keluarga, dan rasa hormat yang tidak bisa diukur hanya dengan statistik pertandingan.***
Berbagai sumber
Editor : Agus Hidayat
