Wonosobo (,LintasTopik.com )– Peternak ayam petelur di Kabupaten Wonosobo menghadapi tekanan usaha akibat kenaikan harga pakan yang tidak diimbangi harga jual telur.
Harga pokok produksi (HPP) telur disebut mencapai Rp24.000 per kilogram, sementara harga jual di tingkat peternak hanya berkisar Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat peternak menanggung selisih biaya produksi dan harga jual hingga Rp4.000 per kilogram jika telur dijual seharga Rp20.000.
Sekretaris KPUS Wonosobo, Fathur Qorib, mengatakan persoalan yang dihadapi peternak tidak hanya kenaikan harga pakan, tetapi juga kelebihan pasokan telur yang membuat harga jual sulit meningkat.
“Kalau kita hitung yang taruhlah Rp20.000 saja dengan HPP Rp24.000 yang defisit Rp4.000,” kata Fathur dalam wawancara di studio Lintas Topik., Selasa 27/10/2026.
Ketua KPUS Sektor Wonosobo, Yuliana, menjelaskan kenaikan harga bahan baku pakan telah dirasakan peternak selama sekitar enam bulan terakhir. Salah satu bahan baku utama, jagung, mengalami kenaikan harga dari Rp6.000–Rp6.200 menjadi Rp8.000 per kilogram.
“Jagung itu dari harga 6.000, 6.200 sekarang melunjaknya ke 8.000,” ujar Yuliana.
Kenaikan juga terjadi pada konsentrat dan bekatul. Menurut Yuliana, harga konsentrat naik dari sekitar Rp425.000 menjadi Rp475.000 per kemasan 50 kilogram. Sementara harga bekatul yang sebelumnya Rp2.500–Rp3.000 per kilogram kini mencapai Rp3.500–Rp4.000.
Di tengah kenaikan biaya tersebut, harga jual telur belum mampu mengikuti peningkatan biaya produksi. Yuliana menjelaskan kondisi itu berkaitan dengan kelebihan populasi ayam petelur yang memicu melimpahnya pasokan telur di pasar.
“Untuk sekarang ini pertama karena kita over populasi. Dua, menimbulkan over supply dan tiga itu efek kenaikan harga pakan yang sangat signifikan,” kata Yuliana.
Menurut dia, kelebihan pasokan membuat penyerapan telur melemah. Akibatnya, peternak kesulitan menaikkan harga jual meskipun biaya produksi terus bertambah.
Tekanan tersebut mendorong peternak melakukan penyesuaian usaha, termasuk mengurangi populasi ayam untuk menekan beban biaya. Fathur mengatakan sebagian peternak juga menghadapi kesulitan karena usaha mereka dibangun menggunakan modal pinjaman sehingga tidak mudah menghentikan operasional kandang.
Kondisi ini turut memengaruhi keputusan calon pelaku usaha yang ingin masuk ke sektor peternakan ayam petelur. KPUS Wonosobo mengingatkan calon peternak agar mempertimbangkan situasi pasar dan biaya produksi sebelum memulai usaha.
“Hari ini kita melarang para peternak-peternak baru,” kata Fathur.
Ia menilai, dalam kondisi pasokan yang berlebih dan biaya produksi tinggi, penambahan populasi ayam justru berisiko memperberat persaingan pasar apabila tidak diimbangi kemampuan pemasaran.
Untuk menghadapi situasi tersebut, KPUS Wonosobo berupaya memperkuat kerja sama antarp eternak sekaligus membangun sistem pemasaran yang lebih terintegrasi. Koperasi juga menjajaki kerja sama dengan petani jagung lokal guna membantu memenuhi kebutuhan bahan baku pakan.
Fathur berharap pemerintah daerah turut mendukung keberlangsungan peternak lokal, terutama melalui kebijakan yang mendorong penyerapan telur dan membantu akses terhadap bahan baku pakan.
Di tengah tekanan biaya dan harga jual yang belum menguntungkan, peternak kini berupaya mempertahankan usaha sembari menunggu kondisi pasokan dan pasar membaik.***
Editor : Agus Hidayat
