WONOSOBO (LintasTopik.com) – Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo kembali menambah jumlah guru besar. Prof. Dr. Ahmad Khoiri, S.Pd., M.Pd. resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Rabu (4/11/2026).
Pengukuhan tersebut sekaligus menempatkan Ahmad Khoiri sebagai profesor termuda di Indonesia dalam bidang Pendidikan IPA pada usia 35 tahun. Ia juga tercatat sebagai guru besar ketiga yang dimiliki Unsiq.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk Rekonstruksi Pendidikan IPA Berbasis Etno-STEM Terintegrasi Islamic Value, Ahmad Khoiri mengangkat gagasan tentang pentingnya kearifan lokal sebagai bagian dari pengembangan pembelajaran sains.
Menurut dia, ilmu pengetahuan alam tidak semestinya hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas maupun eksperimen di laboratorium. Sumber pembelajaran IPA juga dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat, termasuk tradisi, budaya, dan kearifan lokal.
Gagasan tersebut tidak lepas dari latar belakang kehidupannya yang tumbuh di lingkungan pedesaan. Ia justru melihat kehidupan desa sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan dalam pendidikan sains.
“Saya terlahir dari desa. Saya tidak menganggap itu sebagai kelemahan, justru sebagai aset. Sumber daya yang ada di desa, termasuk kearifan lokal, bisa dijadikan bagian dari rekonstruksi pendidikan IPA yang saya tekuni saat ini,” ungkapnya.
Melalui pendekatan etnosains dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), ia berupaya menghubungkan pengetahuan lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendekatan tersebut kemudian diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam.
Baginya, pembelajaran sains tidak berhenti pada kemampuan memahami rumus dan konsep. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan harus mampu membentuk karakter manusia, seperti rasa syukur, tanggung jawab, ketekunan, kedisiplinan, dan kejujuran.
“Belajar sains bukan hanya sekadar memahami rumus dan konsep. Kita juga harus memahami makna di dalamnya, sehingga semakin bersyukur, bertanggung jawab, tekun, rajin, dan jujur,” katanya.
Ahmad Khoiri menuturkan, perjalanan karier akademiknya sebagai dosen Unsiq dimulai pada 2014. Dua tahun kemudian, ia mulai menjalani proses pengembangan kepangkatan akademik sebagai dosen dengan jabatan Asisten Ahli.
Sejumlah penghargaan dan rekognisi akademik juga pernah diraihnya. Di antaranya wisudawan terbaik saat menempuh pendidikan S1, peringkat kedua nasional untuk karya ilmiah paling berpengaruh di lingkungan dosen perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, serta peringkat pertama tingkat Jawa Tengah dalam kategori akademik yang disebutnya sebagai Academic Leader.
Ia juga pernah meraih penghargaan Best Presenter dalam konferensi internasional dan terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Kuala Lumpur dan Thailand.
Bagi Ahmad Khoiri, pencapaian sebagai guru besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik. Sebaliknya, jabatan tersebut menjadi tanggung jawab untuk memperluas manfaat ilmu pengetahuan bagi masyarakat.
“Setelah menjadi guru besar, bagaimana ilmu yang saya miliki bisa semakin berdampak bagi masyarakat. Bukan hanya di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unsiq Zaenal Sukawi menyebut pengukuhan Ahmad Khoiri sebagai tambahan kekuatan akademik sekaligus motivasi bagi perguruan tinggi yang dipimpinnya.
Menurutnya, kehadiran guru besar baru diharapkan semakin memperkuat kontribusi Unsiq dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat, baik di Wonosobo maupun dalam lingkup yang lebih luas.
Ia juga menyebut pencapaian Ahmad Khoiri memiliki arti tersendiri bagi Wonosobo. Pasalnya, profesor termuda bidang Pendidikan IPA tersebut memiliki keterikatan dengan daerah ini, termasuk pernah menempuh pendidikan S1 di Wonosobo.
“Ini sungguh luar biasa. Prof. Khoiri tergolong profesor termuda di Indonesia dalam bidang kepakaran Pendidikan IPA. Mudah-mudahan ini juga menjadi kebanggaan bagi Wonosobo,” kata Zaenal Sukawi.
Rektor berharap bertambahnya guru besar dapat mendorong Unsiq semakin berkembang sebagai perguruan tinggi yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Unsiq juga menargetkan penambahan jumlah profesor pada 2027. Rektor menyampaikan masih ada sejumlah dosen yang dipersiapkan untuk mencapai jabatan akademik tertinggi tersebut.
Ia berharap pengembangan guru besar di Unsiq tidak hanya berlangsung pada bidang pendidikan, tetapi juga mencakup disiplin ilmu lainnya, termasuk bidang keilmuan Islam seperti ilmu tafsir.***
Editor : Agus Hidayat
