Wonosobo (Lintas Topik) – Kerusakan lingkungan masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Wonosobo.
Data Dinas Lingkungan Hidup menyebutkan sekitar 36 ribu hektare lahan di wilayah ini masuk kategori kritis, kondisi yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan sumber air di kawasan pegunungan.
Di tengah situasi tersebut, berbagai upaya konservasi mulai didorong oleh sejumlah pihak, termasuk sektor swasta.
PT Tirta Investama (Aqua) Wonosobo misalnya, dalam beberapa tahun terakhir menjalankan sejumlah program konservasi lingkungan yang melibatkan masyarakat desa di sekitar wilayah operasionalnya.
General Manager PT Tirta Investama Wonosobo, Suparno, mengatakan persoalan lingkungan tidak bisa dipandang sebagai isu jangka pendek, melainkan harus ditangani secara berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak.
“Lingkungan menjadi salah satu pilar utama yang harus dijaga secara berkelanjutan. Karena itu setiap program yang kami lakukan selalu diawali dengan studi dan observasi agar sesuai dengan kondisi di lapangan,” kata Suparno kepada wartawan, Selasa (10/3).
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar program yang dijalankan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan.
Saat ini perusahaan tercatat melakukan pendampingan terhadap 10 desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Wonosobo.
Program yang dijalankan disesuaikan dengan potensi masing-masing desa.
Di sejumlah wilayah, misalnya, masyarakat didorong mengembangkan budidaya kopi sebagai sumber ekonomi alternatif.
Sementara di desa lain yang memiliki potensi alam, pengembangan diarahkan pada wisata berbasis lingkungan.
“Programnya tidak dipaksakan. Kita melihat dulu potensi dan kebutuhan masyarakat di desa tersebut,” ujar Suparno.
Selain pemberdayaan ekonomi masyarakat, perusahaan juga menjalankan berbagai kegiatan konservasi seperti penanaman pohon, pembuatan biopori, hingga pembangunan sumur resapan di beberapa wilayah yang menjadi daerah tangkapan air.
Upaya konservasi tersebut juga melibatkan berbagai mitra, termasuk perguruan tinggi yang membantu melakukan kajian terkait kondisi lingkungan di wilayah tersebut.
Melalui program pendampingan tersebut, PT Tirta Investama juga telah menyalurkan hampir 30 ribu bibit tanaman kepada kelompok masyarakat, mulai dari tanaman kopi hingga tanaman buah seperti alpukat.
Di sisi lain, perusahaan juga mengembangkan kawasan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) seluas sekitar 4,1 hektare di area pabrik. Kawasan ini kini kerap dimanfaatkan mahasiswa dan peneliti untuk melakukan penelitian terkait lingkungan.
Suparno menegaskan, persoalan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, komunitas, hingga sektor swasta harus terlibat,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci agar upaya menjaga kelestarian lingkungan di Wonosobo dapat berjalan secara berkelanjutan.***
Editor ; Agus Hidayat







