Ad image

5 Fakta Final Liga Champions 2026: Ketika Asa Arsenal Terhempas di Budapest

6 Min Read
Arsenal harus kembali gagal merengkuh trophu Liga Champions setelah kalah 3-4 lewat adu penalti di final melawan PSG. (dok. PSG FC)

Budapest ( Lintas Topik.com)– Mimpi Arsenal untuk meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah kembali harus tertunda.

 Sempat unggul lebih dahulu melalui Kai Havertz, The Gunners akhirnya takluk dari PSG yang menang 4-3 lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu pada final Liga Champions 2026 di Puskás Aréna, Budapest.

Kekalahan itu menjadi pukulan telak bagi Arsenal yang baru kembali tampil di final Liga Champions setelah penantian selama dua dekade.

 Sebaliknya, PSG berhasil mempertahankan gelar dan semakin menegaskan status mereka sebagai kekuatan baru sepak bola Eropa.

Di balik drama 120 menit plus adu penalti tersebut, terdapat sejumlah fakta menarik yang membuat final Liga Champions musim ini layak dikenang.

1. PSG Mematahkan Kutukan Gol Pertama

Arsenal mengawali pertandingan dengan sempurna. Kai Havertz membawa tim asal London itu unggul cepat pada menit keenam dan membuat ribuan pendukung The Gunners bermimpi trofi Liga Champions akhirnya akan dibawa pulang ke Emirates Stadium.

- Advertisement -

Dalam banyak final Liga Champions, tim yang mencetak gol lebih dahulu biasanya memiliki peluang besar untuk menjadi juara karena pertandingan cenderung berjalan ketat dan minim gol.

Namun PSG menunjukkan mental juara yang luar biasa. Meski tertinggal sejak awal pertandingan, pasukan Luis Enrique tetap tenang dan perlahan mengambil alih permainan.

Upaya mereka membuahkan hasil ketika Ousmane Dembele menyamakan kedudukan melalui titik penalti pada babak kedua.

PSG kemudian mampu bertahan hingga adu penalti sebelum memastikan kemenangan dan mempertahankan mahkota Eropa.

2. Luis Enrique Raih Gelar Liga Champions Ketiga

Keberhasilan PSG mempertahankan gelar juga menjadi pencapaian istimewa bagi pelatih Luis Enrique.

Pelatih asal Spanyol itu kini telah mengoleksi tiga trofi Liga Champions sepanjang karier kepelatihannya.

- Advertisement -

 Gelar pertama diraih bersama Barcelona pada musim 2014/2015 setelah mengalahkan Juventus di final.

Setelah membawa PSG meraih gelar Liga Champions musim lalu, Enrique kembali mengulangi prestasi yang sama musim ini.

Dengan tiga gelar Liga Champions, nama Luis Enrique kini sejajar dengan sejumlah pelatih elite yang pernah mendominasi kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. 

Keberhasilannya juga menjadi bukti bahwa kesuksesan PSG bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proyek jangka panjang yang dibangun dengan matang.

3. Arsenal Kembali Menangis Setelah 20 Tahun

Bagi Arsenal, final di Budapest menjadi pengulangan kisah pahit yang pernah mereka alami dua dekade lalu.

Sebelum musim ini, satu-satunya penampilan Arsenal di final Liga Champions terjadi pada 2006 saat kalah dari Barcelona. 

Setelah menunggu selama 20 tahun, tim asuhan Mikel Arteta akhirnya berhasil kembali ke partai puncak.

Harapan pun sempat membuncah ketika Havertz membawa Arsenal unggul cepat. Namun sepak bola kembali menunjukkan sisi kejamnya.

Setelah berjuang sepanjang musim dan hanya berjarak beberapa menit dari sejarah, Arsenal harus menyaksikan PSG mengangkat trofi di hadapan mereka. 

Kekalahan ini membuat Arsenal masih harus menunggu untuk mewujudkan ambisi menjadi juara Liga Champions pertama dalam sejarah klub.

4. PSG Resmi Menjadi Dinasti Baru Eropa

Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola Eropa selalu mencari siapa klub yang mampu mendominasi setelah era keemasan Real Madrid berakhir.

Jawabannya kini tampaknya mengarah ke Paris.

Keberhasilan mempertahankan trofi Liga Champions menjadikan PSG sebagai tim pertama dalam beberapa musim terakhir yang mampu mempertahankan gelar juara Eropa.

Yang membuat pencapaian ini semakin menarik adalah keberhasilan tersebut diraih setelah PSG tidak lagi bergantung pada deretan superstar seperti Lionel Messi, Neymar, maupun Kylian Mbappé.

Di bawah Luis Enrique, PSG berubah menjadi tim yang lebih kolektif, disiplin, dan memiliki kedalaman skuad yang merata. Filosofi itulah yang membawa mereka merajai Eropa dalam dua musim beruntun.

5. Adu Penalti Kembali Menjadi Senjata PSG

Jika ada satu hal yang membedakan kedua tim pada final ini, maka jawabannya adalah ketenangan mental.

PSG kembali membuktikan bahwa mereka memiliki karakter kuat ketika pertandingan memasuki momen-momen krusial.

 Kemenangan atas Arsenal menjadi kemenangan adu penalti keenam secara beruntun yang diraih PSG di bawah asuhan Luis Enrique.

Lebih mengesankan lagi, Enrique kini tercatat memenangkan 12 dari 13 partai final yang dijalaninya sebagai pelatih.

Catatan tersebut tampak jelas dalam adu penalti. Saat para pemain Arsenal terlihat dibebani tekanan besar untuk mengakhiri penantian panjang klub, para pemain PSG tampil lebih tenang dan percaya diri.

Drama mencapai puncaknya ketika Gabriel Magalhães gagal mengeksekusi tendangan penalti penentu. Bola melambung di atas mistar gawang dan seketika mengakhiri harapan Arsenal.

Di sisi lain, para pemain PSG langsung berhamburan ke lapangan merayakan keberhasilan mempertahankan trofi Liga Champions.

Final Liga Champions 2026 akhirnya tidak hanya menjadi cerita tentang kemenangan PSG, tetapi juga tentang bagaimana mental juara mampu mengubah jalannya pertandingan. 

Arsenal sempat berada di depan dan melihat trofi begitu dekat, tetapi PSG menunjukkan mengapa mereka kini menjadi tim terbaik di Eropa.

Di Budapest, asa Arsenal kembali terhempas. Sementara PSG semakin menegaskan diri sebagai penguasa baru Benua Biru. ***

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version