Ad imageAd image

Gunung Sumbing, Sabana yang Kembali Dilalap Api 

Lintas Topik Author
4 Min Read
Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung favorite pendaki gunung. ( LT / Muncak.id)

Wonosobo ( Lintas Topik.com) — Kebakaran kembali melanda lereng Gunung Sumbing. Sejak Senin sore (19/10/2026), api membakar vegetasi sabana dan kawasan hutan lindung di gunung yang berada di wilayah Wonosobo, Temanggung, dan Magelang itu. 

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 140 hektare. Sebanyak 152 pendaki berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sementara seluruh jalur pendakian ditutup untuk kepentingan keselamatan. 

Api pertama kali terdeteksi di Petak 29 RPH Kleseman, BKPH Wonosobo, pada ketinggian sekitar 2.500 hingga 2.709 meter di atas permukaan laut (mdpl). Angin kencang dan vegetasi yang mengering selama musim kemarau membuat api cepat merambat. 

Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Perhutani, dan relawan berupaya mengendalikan kebakaran. Pemadaman dilakukan secara manual, termasuk dengan membuat sekat bakar untuk membatasi pergerakan api di kawasan yang sulit dijangkau. 

Kebakaran kali ini menambah daftar kejadian serupa di Gunung Sumbing. Pada September 2023, api menghanguskan sekitar 240 hektare hutan lindung di kawasan Wonosobo. Puluhan pendaki saat itu juga harus dievakuasi dan jalur pendakian ditutup. 

Kebakaran juga pernah melanda kawasan Sumbing dan Sindoro pada September 2018. Luas lahan yang terbakar di kedua gunung tersebut dilaporkan mencapai lebih dari 300 hektare secara keseluruhan. Pada September 2026, kebakaran kembali terjadi di lereng Sumbing wilayah Temanggung dengan luas terdampak sekitar 1,72 hektare. 

- Advertisement -
Ad imageAd image

Gunung di Tiga Kabupaten 

Dengan ketinggian 3.371 mdpl, Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung tertinggi di Jawa Tengah. Gunung api berbentuk kerucut atau stratovolcano ini berdiri berdekatan dengan Gunung Sindoro, membentuk lanskap pegunungan yang menjadi ciri khas wilayah Jawa Tengah bagian tengah. 

Kawasan Sumbing membentang di tiga kabupaten, yakni Wonosobo, Temanggung, dan Magelang. Selama ini, gunung tersebut menjadi salah satu tujuan pendakian karena memiliki jalur dengan karakter medan dan pemandangan yang beragam. 

Ada enam jalur pendakian yang dikenal luas, yakni Garung, Gajahmungkur atau Lamuk, dan Bowongso di wilayah Wonosobo; Mangli di Magelang; serta Banaran dan Cepit Parakan di Temanggung. 

Hamparan sabana menjadi salah satu daya tariknya. Dari kawasan terbuka di lereng hingga puncak, pendaki dapat menikmati bentang pegunungan dan matahari terbit. Namun, saat musim kemarau, vegetasi yang mengering juga membuat kawasan ini rentan terbakar. 

Asal-usul Nama Sumbing 

- Advertisement -
Ad imageAd image

Nama Gunung Sumbing memiliki kaitan dengan kata sumbing dalam bahasa Jawa, yang merujuk pada bibir terbelah atau bagian yang ompong. Bentuk puncak dan kawah yang tampak tidak utuh kerap dikaitkan dengan asal-usul nama tersebut. 

Sejumlah kisah populer menghubungkan bentuk itu dengan aktivitas vulkanik masa lampau, termasuk letusan yang disebut terjadi pada 1730. Letusan tersebut dipercaya merusak sebagian dinding kawah sehingga meninggalkan bentuk yang menyerupai bagian terbelah. 

Meski demikian, hubungan langsung antara letusan pada tahun tersebut dan penamaan Gunung Sumbing masih memerlukan dukungan catatan sejarah yang lebih kuat. 

Kini, setelah kebakaran kembali melanda lerengnya, aktivitas pendakian di Gunung Sumbing dihentikan sementara. Petugas masih berupaya mengendalikan api, sedangkan pembukaan kembali jalur pendakian menunggu kondisi kawasan dinyatakan aman. *** 

Editor : Agus Hidayat 

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment