Wonosobo ( Lintas Topik.com – Umat Islam akan segera memasuki Hari Arafah, yakni 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Raya Iduladha. Pada hari yang istimewa tersebut, umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji dianjurkan melaksanakan Puasa Arafah, salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar.
Keutamaan Puasa Arafah dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Qatadah Al-Anshari. Ketika ditanya tentang puasa pada Hari Arafah, Rasulullah bersabda:
“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Hadis tersebut menjadi dasar kuat anjuran Puasa Arafah bagi umat Islam di seluruh dunia. Para ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.
Hari Arafah sendiri merupakan salah satu hari paling mulia dalam kalender Islam. Pada hari itu, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf yang menjadi puncak ibadah haji. Sementara umat Islam yang tidak berhaji dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk berpuasa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak doa.
Kemuliaan hari-hari pertama bulan Dzulhijjah juga mendapat perhatian khusus dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 1-2:
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
Banyak ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk Hari Arafah yang dikenal sebagai salah satu waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.
Niat Puasa Arafah
Niat merupakan bagian penting dalam setiap ibadah. Pada dasarnya, niat puasa cukup dilakukan di dalam hati sebagai bentuk kesungguhan menjalankan ibadah karena Allah SWT.
Meski demikian, sebagian ulama mencantumkan lafal niat yang umum dibaca umat Islam sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumi ‘Arafata sunnatan lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Saya berniat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Niat dapat dilakukan sejak malam hari sebelum puasa hingga menjelang terbit fajar.
Tata Cara Pelaksanaan
Pelaksanaan Puasa Arafah tidak berbeda dengan puasa sunnah pada umumnya. Umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Selain menahan lapar dan dahaga, orang yang berpuasa juga dianjurkan menjaga lisan dan perilaku dari perbuatan yang tidak bermanfaat maupun maksiat. Hari Arafah juga menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Ketika waktu Magrib tiba, puasa disunnahkan untuk segera diakhiri dengan berbuka.
Dianjurkan bagi yang Tidak Berhaji
Puasa Arafah diperuntukkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Adapun bagi jamaah haji yang sedang melaksanakan wukuf di Arafah, mayoritas ulama memakruhkan berpuasa karena dikhawatirkan dapat mengurangi stamina dan konsentrasi dalam menjalankan rangkaian ibadah haji.
Dengan keutamaan yang dijanjikan Rasulullah SAW, Puasa Arafah menjadi kesempatan berharga bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar Hari Arafah tidak dilewatkan tanpa memperbanyak ibadah dan amal saleh. ***
Editor : Agus Hidayat







