Wonosobo (Lintas Topik.com) – Takbiran menjadi salah satu tradisi yang tidak pernah lepas dari perayaan hari raya umat Islam.
Namun berbeda dengan Idul Fitri yang takbirnya umumnya dikumandangkan sejak malam 1 Syawal hingga pelaksanaan salat Id, takbir pada Idul Adha memiliki waktu pelaksanaan yang lebih panjang.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa takbir Idul Adha sebenarnya telah dianjurkan sejak Hari Arafah atau 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Anjuran tersebut berlanjut hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik pada 13 Dzulhijjah.
Dalam kajian fikih, para ulama membagi takbir Idul Adha menjadi dua jenis, yakni takbir mutlak dan takbir muqayyad. Takbir mutlak dapat dibaca kapan saja tanpa terikat waktu tertentu, baik di rumah, masjid, perjalanan maupun saat beraktivitas sehari-hari.
Sementara takbir muqayyad merupakan takbir yang dibaca setelah melaksanakan salat fardu.
Mayoritas ulama berpendapat takbir muqayyad dimulai sejak selesai salat Subuh pada Hari Arafah, 9 Dzulhijjah, dan terus dibaca setiap selesai salat fardu hingga setelah salat Ashar pada 13 Dzulhijjah atau akhir hari Tasyrik.
Pendapat tersebut diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW, di antaranya Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.
Karena itu, suasana takbiran pada Idul Adha umumnya berlangsung lebih lama dibandingkan Idul Fitri.
Kumandang takbir tidak hanya terdengar pada malam menjelang hari raya, tetapi juga masih menggema di masjid dan musala selama beberapa hari setelah pelaksanaan salat Idul Adha.
Anjuran memperbanyak takbir pada hari-hari tersebut memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 28:
“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…”

Selain itu, dalam Surat Al-Baqarah ayat 203, umat Islam juga diperintahkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.
Banyak ulama menafsirkan ayat tersebut berkaitan dengan hari-hari Tasyrik yang mengikuti Hari Raya Idul Adha.
Takbir merupakan salah satu bentuk zikir yang berisi pengagungan kepada Allah SWT. Melalui kalimat Allahu Akbar, umat Islam diajak untuk menyadari kebesaran Allah sekaligus mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan.
Di Indonesia, tradisi takbiran berkembang dalam beragam bentuk, mulai dari takbir bersama di masjid, pawai obor, hingga takbir keliling yang melibatkan masyarakat.
Meski demikian, para ulama mengingatkan bahwa esensi takbir tidak terletak pada kemeriahannya, melainkan pada penghayatan kalimat-kalimat pujian kepada Allah SWT yang dilantunkan dengan penuh keikhlasan.
Dengan demikian, umat Islam tidak perlu menunggu malam Idul Adha untuk mulai bertakbir. Sejak Hari Arafah tiba, takbir sudah dianjurkan untuk dikumandangkan sebagai bagian dari syiar Islam dan ibadah yang mengiringi datangnya Hari Raya Idul Adha hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik. ***
Editor : Agus Hidayat







