Wonosobo (Lintas Topik.com) — Menjelang Hari Raya Idulfitri, denyut kehidupan di Desa Besani, Kecamatan Leksono, berubah drastis. Desa ini seolah memasuki musim panen tahunan, bukan dari sawah atau ladang, melainkan dari anyaman janur yang disulap menjadi selongsong ketupat.
Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Besani dikenal sebagai salah satu pemasok utama selongsong ketupat di Wonosobo. Setiap tahun, ritmenya hampir sama—dua hingga tiga hari menjelang Lebaran, ratusan warga berbondong-bondong menuju kota untuk menjajakan hasil anyaman mereka.
Salah satu titik yang paling ramai adalah kawasan perempatan Gereja Jawa. Di sana, para pedagang—yang mayoritas ibu-ibu—duduk berderet di pinggir jalan sambil menggelar dagangan. Menariknya, mereka tidak hanya menunggu pembeli. Di sela waktu, tangan-tangan terampil itu tetap bergerak, merangkai janur segar menjadi selongsong ketupat.
Suasana kian sibuk saat memasuki hari-hari terakhir Ramadan. Permintaan melonjak tajam seiring masyarakat mulai mempersiapkan hidangan khas Lebaran. Ketupat, yang nyaris tak pernah absen di meja makan, membuat selongsongnya ikut diburu.
Para pedagang umumnya menjual dalam bentuk ikatan. Satu ikat berisi 10 buah dibanderol sekitar Rp10 ribu, dengan harga yang relatif seragam di antara penjual. Persaingan pun bukan pada harga, melainkan kecepatan produksi dan ketepatan memilih lokasi berjualan.
Lonjakan permintaan ini bukan tanpa alasan. Di sekitar Pasar Induk Wonosobo, penjualan selongsong ketupat bahkan bisa mencapai sekitar 1.500 buah per hari. Banyak pembeli kini lebih memilih membeli selongsong siap pakai daripada membuat sendiri, dengan alasan kepraktisan.
Rahmat Basuki, salah satu pedagang, mengaku tren tersebut sangat terasa dalam beberapa hari terakhir. Selongsong yang dibuat pada malam hari, kata dia, biasanya sudah habis terjual keesokan paginya. Dengan harga sekitar Rp1.000 per buah, jenis bucu menjadi yang paling diminati karena dinilai lebih praktis.
Untuk memenuhi tingginya permintaan, pasokan janur didatangkan dari wilayah Kaliwiro dalam jumlah besar. Dalam sekali pengiriman, jumlahnya bisa mencapai ribuan batang. Bahan baku tersebut kemudian dianyam secara manual oleh warga Besani.
Meski terlihat sederhana, prosesnya membutuhkan keterampilan. Satu selongsong ketupat bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari empat menit. Dengan ritme kerja yang hampir tanpa jeda, para perajin mampu memproduksi dalam jumlah besar setiap harinya.
Tak hanya di perempatan Gereja Jawa, pedagang dari Besani juga menyebar ke berbagai titik strategis lain, seperti sepanjang Jalan A. Yani hingga kawasan Pasar Induk Wonosobo.
Bagi warga Besani, momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga peluang penting untuk menambah penghasilan. Dalam waktu singkat, hasil dari berjualan selongsong ketupat mampu menjadi penopang ekonomi keluarga menjelang Lebaran.
Di balik bentuknya yang sederhana, anyaman janur itu menyimpan cerita tentang tradisi, ketekunan, dan kecerdikan masyarakat desa dalam membaca peluang. Dari tangan-tangan warga Besani, selongsong ketupat itu memulai perjalanannya—hingga akhirnya hadir di meja makan keluarga saat hari kemenangan tiba. ***
Editor : Agus Hidayat
