Wonosobo (Lintas Topik.com) — Menjelang Hari Raya Idulfitri, denyut aktivitas di Pasar Induk Wonosobo berubah drastis. Di sisi barat pasar, deretan lapak bunga mendadak jadi pusat perhatian. Warga datang silih berganti, berburu bunga segar untuk tradisi nyekar ke makam keluarga.
Sejak pagi buta, suasana sudah terasa lebih hidup dari biasanya. Warna-warni bunga—mulai dari mawar merah, putih hingga pink—tertata rapi di lapak-lapak sederhana. Aroma khas bunga segar pun langsung menyambut siapa saja yang melintas di area tersebut.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Tradisi nyekar menjelang Lebaran membuat permintaan bunga tabur meningkat tajam. Mawar menjadi jenis bunga yang paling banyak diburu karena dianggap paling umum digunakan untuk ziarah kubur.
Salah satu pedagang, Wildan Adiantoro, mengungkapkan bahwa momen menjelang Lebaran memang selalu menjadi waktu paling sibuk bagi penjual bunga. Ia bahkan mengakui, lonjakan pembeli sudah terasa sejak pagi hari.
“Pagi tadi ramai sekali, apalagi pas pasar pagi. Pembeli terus berdatangan,” ujarnya, Jumat (20/3).
Wildan sendiri mulai membuka lapaknya sejak pukul 05.00 WIB hingga menjelang sore. Namun, ia mengakui bahwa puncak keramaian biasanya terjadi di pagi hari, saat aktivitas pasar sedang padat-padatnya.
Meski pembeli terus berdatangan, jumlah penjualan tidak selalu bisa dipastikan. Menurutnya, semakin mendekati Lebaran, stok bunga justru sering kali kewalahan mengejar tingginya permintaan.
Harga bunga yang ditawarkan pun cukup beragam. Untuk kemasan sederhana menggunakan plastik, dibanderol sekitar Rp10 ribu. Sementara untuk kemasan lebih rapi menggunakan keranjang, harganya bisa mencapai Rp50 ribu per paket.
Menariknya, sebagian besar bunga yang dijual berasal dari hasil budidaya sendiri. Di wilayah Selomerto, lahan persawahan banyak dimanfaatkan warga untuk menanam mawar sebagai komoditas musiman.
Namun untuk memenuhi lonjakan permintaan, pasokan tambahan juga didatangkan dari luar daerah, salah satunya dari Bandongan, Kabupaten Magelang.
Di balik ramainya pembeli, tersimpan peluang ekonomi yang cukup menjanjikan. Dalam sehari berjualan saat momen Lebaran, Wildan mengaku mampu meraup omzet hingga Rp700 ribu sampai Rp1 juta.
Meski hanya berlangsung dalam waktu singkat, tradisi tahunan ini selalu menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang bunga. ***
Editor : Agus Hidayat
