Mexico ( Lintas Topik.com) – Di setiap negara peserta Piala Dunia selalu ada sosok yang menjadi simbol dukungan dari tribun. Bagi Spanyol, sosok itu adalah Manuel Cáceres Artesero atau yang lebih dikenal dengan nama Manolo el del Bombo.
Selama puluhan tahun, Manolo hampir tidak pernah terpisahkan dari perjalanan Timnas Spanyol. Penampilannya mudah dikenali.
Ia selalu datang dengan baret hitam berukuran besar di kepalanya, mengenakan jersey tim nasional, serta membawa drum yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Dari tribun itulah ia memimpin nyanyian para suporter dan menjadi bagian dari atmosfer yang mengiringi pertandingan-pertandingan La Roja.
Piala Dunia 2026 menjadi turnamen besar pertama yang dijalani Spanyol tanpa kehadiran Manolo. Pria yang dikenal luas oleh penggemar sepak bola di berbagai negara itu meninggal dunia pada Mei 2025 dalam usia 76 tahun.
Meski demikian, namanya masih sering disebut di antara para pendukung Spanyol yang mengikuti tim nasional mereka di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Bagi generasi pendukung Spanyol, Manolo bukan sekadar suporter yang rajin datang ke stadion. Ia adalah saksi perjalanan panjang tim nasional negaranya. Saat Spanyol masih kesulitan bersaing di level tertinggi, Manolo sudah berada di tribun.
Ketika generasi emas yang diperkuat Iker Casillas, Xavi Hernandez, Andres Iniesta dan kawan-kawan membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, ia juga berada di sana, ikut merayakan momen yang selama puluhan tahun dinantikan publik sepak bola Spanyol.
FIFA mencatat Manolo mengikuti 10 edisi Piala Dunia dan delapan turnamen Piala Eropa. Catatan itu menunjukkan bahwa dukungannya kepada Timnas Spanyol bukan sesuatu yang muncul sesaat karena tim sedang berjaya.
Ia tetap mengikuti La Roja dalam berbagai periode, termasuk ketika hasil-hasil yang diraih jauh dari harapan.
Dalam banyak foto dan tayangan televisi, sosok Manolo hampir selalu tampil dengan atribut yang sama.
Baret hitam dan drum besar menjadi identitas yang melekat padanya. Bagi sebagian penonton sepak bola, dua benda itu bahkan lebih mudah diingat daripada nama lengkapnya.
Seiring waktu, Manolo berkembang menjadi salah satu wajah yang paling dikenal dari tribun pendukung Spanyol.
Keberadaannya menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya dibentuk oleh pemain yang bertanding di lapangan.
Di balik setiap pertandingan besar, selalu ada suporter yang menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk mengikuti tim yang mereka cintai. Manolo menjadi salah satu contoh paling dikenal dari fenomena tersebut.
Karena itu, kepergiannya pada tahun lalu meninggalkan ruang kosong di tribun Spanyol. Namun ruang kosong itu ternyata tidak benar-benar hilang.
Pada Piala Dunia 2026, sejumlah pendukung Spanyol masih membawa drum ke stadion sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang selama ini identik dengan suara tersebut.
Salah satunya adalah Juan Macià, suporter yang pernah menjalin persahabatan dengan Manolo dan kini ikut menjaga tradisi itu tetap hidup.
Menariknya, menurut laporan Reuters dari Meksiko, beberapa warga lokal bahkan masih menyebut para pendukung Spanyol yang membawa drum dengan panggilan “Manolo”.
Nama itu perlahan berubah menjadi simbol yang mewakili kultur dukungan suporter Spanyol, bukan lagi sekadar merujuk pada satu orang.
Di tengah sorotan terhadap para pemain yang berlaga di Piala Dunia 2026, kisah tentang Manolo menjadi pengingat bahwa sepak bola juga menyimpan cerita dari luar lapangan.
Selama lebih dari empat dekade, ia mengikuti Timnas Spanyol dengan cara yang sederhana: hadir di tribun, membawa drum, dan mendukung timnya ke mana pun mereka bermain.
Kini orangnya memang sudah tiada. Namun bagi banyak pendukung Spanyol, suara drum yang kembali terdengar dari tribun seolah menjadi penanda bahwa sebagian dari semangat Manolo masih ikut mengiringi perjalanan La Roja di Piala Dunia. ***
Sumber : FIFA
Editor : Agus Hidayat
