Wonosobo (Lintas Topik.com)– Koperasi Purna Migran Sejahtera di Kabupaten Wonosobo mulai didorong meninggalkan sistem pencatatan manual yang selama ini dinilai tidak lagi memadai. Digitalisasi keuangan menjadi langkah penting seiring pertumbuhan aset dan jumlah anggota yang terus meningkat.
Upaya itu dilakukan melalui pelatihan administrasi keuangan berbasis aplikasi yang digelar SARI Institute bersama Migrant CARE, Kamis (30/4/2026), di RM Sari Rasa, Wonosobo.
Perwakilan SARI Institute, Tri Widiyanto, mengungkapkan bahwa selama ini pengelolaan keuangan koperasi sebenarnya sudah berjalan cukup baik. Namun, sebagian besar masih dilakukan secara manual, sehingga berisiko terjadi kesalahan pencatatan dan membutuhkan waktu lebih lama.
“Masih banyak yang mencatat secara manual, bahkan dengan cara sederhana. Kalau volumenya kecil mungkin tidak terasa, tapi ketika sudah berkembang, ini jadi kendala,” ujarnya.
Padahal, koperasi yang berdiri sejak 2022 tersebut kini telah memiliki sekitar 250 anggota yang tersebar di 13 desa. Berdasarkan hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT) Maret 2026, total aset koperasi telah menembus angka lebih dari Rp80 juta.
Menurut Tri, kondisi ini menuntut perubahan cara kerja yang lebih modern dan efisien.
“Dengan aplikasi, pencatatan transaksi, laporan keuangan, sampai pembagian jasa bisa langsung terlihat. Ini akan memangkas waktu dan meningkatkan akurasi,” katanya.
Namun demikian, proses transformasi digital bukan tanpa tantangan. Fasilitator pelatihan, Romadhon, S.E., M.M., Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, menilai hambatan terbesar justru terletak pada kesiapan sumber daya manusia.
“Masalah utamanya adalah adaptasi. Banyak pengurus yang masih sangat terbiasa dengan pencatatan tradisional, bahkan ada yang belum familiar dengan perangkat seperti laptop,” jelasnya.
Sebagai akademisi di bidang ekonomi, Romadhon menekankan bahwa digitalisasi tidak harus langsung kompleks. Menurutnya, penggunaan aplikasi sederhana seperti spreadsheet berbasis Excel bisa menjadi langkah awal yang realistis.
“Yang penting mulai dulu dari yang paling sederhana dan mudah diakses. Tapi kalau koperasi ingin berkembang lebih besar, mau tidak mau harus berani berinvestasi pada sistem digital yang lebih baik,” tegasnya.
Pelatihan ini diikuti oleh pengurus koperasi dan kelompok Desbumi dari empat kecamatan, yakni Sukoharjo, Leksono, Watumalang, dan Kertek. Selain mendapatkan materi, peserta juga langsung melakukan uji coba pencatatan keuangan berbasis aplikasi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Inklusi Kemitraan Australia–Indonesia yang bertujuan memperkuat kapasitas ekonomi perempuan purna pekerja migran. Ke depan, digitalisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong koperasi desa agar lebih transparan, akuntabel, dan mampu bersaing di era ekonomi digital. ***
Editor : Agus Hidayat







