Ad image

Ratusan Warga Jalani Tapa Bisu, Menapak Jejak Perpindahan Pusat Pemerintahan Wonosobo

3 Min Read
Prosesi Tapa Bisu sebagai simbul perpindahan pemerintahan Kabupaten Wonosobo berlangsung Kamis, 23/7/2026. ( LT/Ida Agus)

Wonosobo (Lintas Topik.com). Gelap menyelimuti jalan protokol Kota Wonosobo pada Kamis (23/7/2026) malam. Lampu penerangan jalan sengaja dipadamkan. Dalam temaram cahaya obor, ratusan peserta berpakaian adat Jawa berjalan perlahan dari Perempatan Honggoderpo menuju Pendopo Bupati. Tak terdengar percakapan. Warga yang memadati tepi jalan pun ikut menjaga keheningan hingga rombongan melintas.

Suasana hening itu menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi Tapa Bisu, rangkaian sakral dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201. Bagi masyarakat Wonosobo, diam bukan sekadar sikap, melainkan simbol penghormatan terhadap perjalanan sejarah berdirinya daerah tersebut.

Di barisan terdepan, peserta membawa air yang sebelumnya diambil dari tujuh mata air di Wonosobo serta tanah dari makam Ki Ageng Wanusaba. Kedua simbol itu menggambarkan perpindahan pusat pemerintahan dari Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, menuju Wonosobo yang kini menjadi ibu kota kabupaten.

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistyowati, mengatakan prosesi Tapa Bisu menjadi pengingat atas perjalanan panjang lahirnya Wonosobo. Menurutnya, keheningan yang dijalani peserta mengandung doa dan harapan agar Wonosobo senantiasa diberi kemajuan dan kesejahteraan.

“Tapa Bisu ini melambangkan perpindahan Wonosobo dari Plobangan menuju pusat pemerintahan yang sekarang. Untuk menuju sesuatu yang lebih baik, kita berharap semuanya dilakukan dengan doa dan khidmat, sehingga harapannya Wonosobo akan menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Ratna menjelaskan, pelaku utama prosesi tetap berasal dari Desa Plobangan sebagai representasi wilayah yang menjadi titik awal sejarah perpindahan pemerintahan. Namun, pelaksanaan Tapa Bisu kini semakin melibatkan masyarakat luas.

- Advertisement -

Selain diikuti kepala desa dan perangkat desa se-Kecamatan Selomerto, tahun ini panitia juga membuka pendaftaran bagi masyarakat umum melalui media sosial. Antusiasme warga cukup tinggi. Dalam dua hari pendaftaran, sekitar 80 orang mendaftarkan diri untuk mengikuti prosesi tersebut.

“Kalau dulu hanya diikuti masyarakat Desa Plobangan, sekarang seluruh kepala desa dan perangkat desa di Kecamatan Selomerto ikut terlibat. Tahun ini masyarakat umum juga kami libatkan agar semakin banyak yang memahami makna tradisi ini,” ujarnya.

Setelah prosesi Tapa Bisu berakhir, rangkaian dilanjutkan dengan penyatuan air dari tujuh mata air yang telah dikumpulkan sebelumnya. Air tersebut didoakan oleh enam tokoh agama sebagai simbol persatuan dalam keberagaman, sebelum diserahkan kepada Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) untuk menjalani prosesi adat berikutnya.

Tradisi yang terus dipertahankan setiap peringatan Hari Jadi Wonosobo itu menjadi pengingat bahwa sejarah daerah tidak hanya tersimpan dalam catatan masa lalu. Melalui langkah tanpa suara di bawah cahaya obor, masyarakat kembali menapak jejak perpindahan pusat pemerintahan yang menjadi awal perjalanan Kabupaten Wonosobo hingga memasuki usia ke-201.***

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version