Wonosobo (Lintas Topik.com) — Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo, meninjau langsung progres pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Candiyasan, Kecamatan Kertek, Selasa (14/4/2026), menyusul polemik penolakan warga yang sebelumnya sempat viral di media sosial.
Peninjauan dilakukan bersama unsur Forkopimda serta tokoh masyarakat dan komite setempat sebagai bentuk pengawalan lintas sektor terhadap proyek strategis nasional tersebut.
Andang menyampaikan, dinamika di masyarakat kini mulai mereda dan berangsur kondusif. Warga yang sebelumnya menolak, kini mulai memberikan dukungan terhadap pembangunan Sekolah Rakyat.
“Alhamdulillah, hari ini warga sudah mendukung pembangunan Sekolah Rakyat. Ini bagian dari komitmen kami menindaklanjuti arahan pemerintah pusat untuk mengawal proyek nasional ini,” ujarnya.
Penolakan warga sebelumnya dipicu oleh rencana penggunaan lapangan sepak bola di Dusun Banjaran yang dinilai memiliki nilai historis, karena dibangun melalui perjuangan masyarakat sejak awal masa reformasi.
“Warga awalnya meminta lapangan tidak digunakan. Namun sudah kami jelaskan bahwa lahan tersebut merupakan bagian dari aset pemerintah,” jelas Andang.
Ia mengungkapkan, kebutuhan lahan pembangunan Sekolah Rakyat idealnya mencapai 7,7 hingga 10 hektare. Sementara lahan yang tersedia di lokasi hanya sekitar 5,29 hektare, termasuk area lapangan.

“Karena keterbatasan lahan, lapangan tetap digunakan. Namun pemerintah daerah sudah menyiapkan penggantinya,” tegasnya.
Sebagai solusi, Pemkab Wonosobo telah menganggarkan pengadaan lahan pengganti melalui perubahan APBD. Saat ini proses masih dalam tahap identifikasi lokasi serta penilaian melalui mekanisme appraisal.
“Warga sudah mengusulkan beberapa alternatif lokasi. Nantinya akan kami kaji menggunakan penilai independen atau instansi resmi,” imbuhnya.
Pemerintah menargetkan pengadaan lahan pengganti dapat diselesaikan tahun ini, sehingga pembangunan fasilitas pengganti dapat direalisasikan pada 2027.
Meski demikian, sebagian warga masih menunggu kepastian terkait harga ganti rugi dan waktu pelaksanaan.
Ketua BPD Candiyasan, Yasin, mengatakan hingga saat ini persoalan belum sepenuhnya tuntas.
“Kalau dibilang clear belum, karena terkait harga dan pelaksanaan belum jelas. Rencananya akan dibahas dalam musyawarah desa, lalu disampaikan ke camat dan bupati. Harapan masyarakat, bisa segera dipastikan,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi teknis pelaksanaan, pihak kontraktor menyebut progres pembangunan masih sesuai bahkan lebih cepat dari rencana, meski sempat terkendala akses dan faktor cuaca.
Site Manager proyek dari Wijaya Karya, Fedik Yahezkiel Hutahaean, mengatakan kendala utama di lapangan lebih pada akses menuju lokasi.
“Secara progres kami masih lebih cepat dari rencana. Kendala utama pada akses dan cuaca, namun setelah akses teratasi, kami optimistis percepatan bisa dilakukan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya menargetkan pembangunan tahap awal dapat rampung pada Juni mendatang. ***
Editor : Agus Hidayat







