Wonosobo (Lintas Topik.com). Menjelang pukul 20.00 WIB Kamis malam (23/6) satu per satu lampu penerangan di sepanjang jalan protokol Kota Wonosobo dipadamkan.
\Jalan yang biasanya terang berubah gelap. Beberapa saat kemudian, puluhan nyala obor mulai bergerak perlahan dari Perempatan Honggoderpo menuju Pendopo Bupati.
Tak ada suara yang memecah malam. Ratusan peserta yang mengenakan pakaian adat Jawa melangkah tanpa sepatah kata. Warga yang berdiri di kanan-kiri jalan pun seolah memahami suasana itu. Mereka memilih diam, membiarkan rombongan berlalu dalam keheningan.
Selama hampir satu jam, Wonosobo seperti melepaskan dirinya dari kehidupan hari ini.
Tak ada cahaya lampu listrik. Tak ada hiruk-pikuk kota. Yang tersisa hanya cahaya obor, pakaian adat, dan langkah kaki yang bergerak perlahan. Sejenak, kota di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing itu seolah meminjam waktu dari masa lalu.
Bagi sebagian orang yang baru pertama menyaksikannya, Tapa Bisu mungkin hanya terlihat sebagai kirab budaya tanpa suara. Namun bagi masyarakat Wonosobo, prosesi itu adalah cara mengenang sebuah peristiwa penting dalam perjalanan daerah ini, yakni perpindahan pusat pemerintahan dari Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, menuju Wonosobo yang kini menjadi ibu kota kabupaten.
Di barisan paling depan, air dari tujuh mata air dan tanah dari makam Ki Ageng Wanusaba ikut dibawa menuju Pendopo Bupati. Dua simbol itu menyertai perjalanan yang merepresentasikan perpindahan pusat pemerintahan yang menjadi bagian dari sejarah lahirnya Wonosobo.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistyowati, mengatakan Tapa Bisu merupakan simbol perpindahan Wonosobo dari Plobangan menuju pusat pemerintahan yang sekarang.
“Untuk menuju sesuatu yang lebih baik, kita berharap semuanya dilakukan dengan doa dan khidmat, sehingga harapannya Wonosobo akan menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.
Menurut Ratna, prosesi yang selama ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Wonosobo terus berkembang. Jika sebelumnya hanya diikuti masyarakat Desa Plobangan, kini kepala desa dan perangkat desa se-Kecamatan Selomerto turut terlibat. Pada peringatan Hari Jadi ke-201, panitia juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengikuti Tapa Bisu. Dalam dua hari masa pendaftaran melalui media sosial, sekitar 80 orang mendaftarkan diri.
Keterlibatan masyarakat itu membuat Tapa Bisu tak lagi menjadi tradisi yang hanya dimiliki satu desa. Ia menjadi ruang bersama bagi warga Wonosobo untuk mengenal kembali asal-usul daerahnya.
Usai berjalan dalam diam, rangkaian dilanjutkan dengan penyatuan air dari tujuh mata air yang sebelumnya telah dikumpulkan dari berbagai wilayah Wonosobo. Air tersebut didoakan oleh enam tokoh agama sebelum diserahkan kepada Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) untuk menjalani prosesi adat berikutnya.
Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, Tapa Bisu menawarkan sesuatu yang sederhana: berhenti sejenak untuk mengingat.
Mengingat bahwa sebelum menjadi kota yang ramai seperti sekarang, Wonosobo pernah memulai perjalanannya dari sebuah desa bernama Plobangan.
Dan setiap peringatan hari jadinya, perjalanan itu kembali ditempuh. Bukan untuk kembali hidup di masa lalu, melainkan agar sejarah tentang asal-usul Wonosobo tetap berjalan bersama generasi yang hidup hari ini. ***
Editor : Agus Hidayat







