London ( Lintas Topik.com) – Liga Primer Inggris musim 2025/2026 resmi berakhir dengan sejumlah cerita besar yang mengubah peta persaingan sepak bola Inggris.
Bukan hanya soal siapa yang mengangkat trofi dan siapa yang harus turun kasta, musim ini juga menjadi penanda lahirnya kekuatan baru sekaligus berakhirnya sebuah era yang mendominasi kompetisi selama bertahun-tahun.
Dari keberhasilan Arsenal mengakhiri puasa gelar hingga perpisahan Pep Guardiola dengan Manchester City, berikut tujuh fakta yang paling mewarnai perjalanan Liga Primer Inggris musim 2025/2026.
1. Arsenal Akhiri Penantian Gelar Selama 22 Tahun
Arsenal akhirnya kembali berdiri di puncak sepak bola Inggris setelah memastikan diri menjadi juara Liga Primer musim 2025/2026.
Gelar tersebut menjadi yang pertama bagi The Gunners sejak musim 2003/2004, ketika tim berjuluk The Invincibles mencatat sejarah dengan menyelesaikan kompetisi tanpa kekalahan.
Setelah dua dekade lebih menunggu dan beberapa kali gagal dalam persaingan perebutan gelar, Arsenal akhirnya mampu menuntaskan misinya.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti keberhasilan proyek jangka panjang yang dibangun pelatih Mikel Arteta sejak mengambil alih tim pada 2019.
Konsistensi performa sepanjang musim menjadi kunci utama yang mengantar klub London Utara tersebut kembali menjadi raja Inggris.

2. Era Guardiola di Manchester City Resmi Berakhir

Jika Arsenal menjadi simbol awal sebuah era baru, maka Manchester City menandai berakhirnya era yang telah mendominasi Liga Inggris selama hampir satu dekade.
Meski menutup musim sebagai runner-up, perhatian publik justru tertuju pada perpisahan Pep Guardiola dengan klub yang telah dibawanya meraih berbagai gelar bergengsi.
Di bawah Guardiola, Manchester City menjelma menjadi salah satu tim terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris.
Dominasi mereka menghasilkan sederet trofi domestik dan mengubah standar persaingan di Liga Primer. Musim 2025/2026 menjadi penutup perjalanan salah satu pelatih paling berpengaruh yang pernah hadir di kompetisi tersebut.
3. Manchester United Kembali ke Liga Champions

Setelah beberapa musim mengalami inkonsistensi, Manchester United akhirnya kembali memastikan tempat di Liga Champions melalui jalur klasemen liga.
Finis di posisi tiga besar menjadi pencapaian penting bagi Setan Merah yang dalam beberapa tahun terakhir kerap keluar masuk zona elite.
Hasil tersebut memberi sinyal bahwa United mulai menemukan stabilitas dan kembali mampu bersaing dengan para pesaing utama.
Kembalinya United ke Liga Champions juga menjadi kabar baik bagi pendukung mereka yang telah lama menanti kebangkitan klub di level tertinggi sepak bola Eropa.
4. Aston Villa Buktikan Bukan Sekadar Kejutan

Aston Villa kembali menutup musim di zona Liga Champions dan mempertegas status mereka sebagai salah satu kekuatan baru Liga Inggris.
Beberapa tahun lalu, pencapaian Villa mungkin dianggap sebagai kejutan. Namun keberhasilan mempertahankan posisi di papan atas menunjukkan bahwa klub asal Birmingham tersebut telah berkembang menjadi tim yang mampu bersaing secara konsisten.
Keberhasilan itu sekaligus memperlihatkan bahwa dominasi klub-klub tradisional mulai mendapat tantangan serius dari tim yang dibangun dengan perencanaan jangka panjang dan manajemen yang stabil.
5. Sunderland Jadi Kejutan Terbesar Musim Ini

Tak banyak yang memperkirakan Sunderland akan menjadi salah satu sorotan utama musim ini.
Baru satu tahun kembali ke Liga Primer, klub berjuluk The Black Cats justru berhasil mengamankan tiket ke Liga Europa. Prestasi tersebut menjadi salah satu pencapaian paling mengejutkan dalam kompetisi musim ini.
Ketika sebagian besar tim promosi berjuang menghindari degradasi, Sunderland justru mampu bersaing di papan atas dan mengakhiri musim sebagai salah satu wakil Inggris di kompetisi Eropa.
6. Chelsea Gagal Menembus Kompetisi Eropa

Di tengah keberhasilan sejumlah rivalnya, Chelsea harus menerima kenyataan pahit mengakhiri musim di luar zona kompetisi Eropa.
Klub London Barat itu kembali gagal memenuhi ekspektasi meski memiliki skuad bertabur pemain berkualitas. Hasil tersebut menjadi kemunduran bagi klub yang dalam dua dekade terakhir hampir selalu menjadi bagian dari persaingan di level Eropa.
Kegagalan lolos ke kompetisi antarklub UEFA diperkirakan akan memicu evaluasi besar menjelang musim 2026/2027.
7. West Ham Menang, tetapi Tetap Terdegradasi

Drama terbesar di papan bawah terjadi pada pekan terakhir kompetisi dan melibatkan West Ham United.
The Hammers berhasil mengalahkan Leeds United dengan skor meyakinkan. Namun kemenangan itu tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari degradasi karena hasil pertandingan lain tidak berpihak.
West Ham akhirnya finis di posisi ke-18 dan harus turun ke Championship bersama Burnley serta Wolverhampton Wanderers.
Degradasi tersebut terasa ironis mengingat klub London Timur itu beberapa tahun lalu masih tampil di kompetisi Eropa dan bahkan sempat meraih gelar UEFA Conference League.
Liga Inggris Memasuki Babak Baru
Musim 2025/2026 menjadi salah satu musim yang paling menarik dalam beberapa tahun terakhir. Arsenal kembali menjadi juara setelah penantian panjang, Manchester United menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, Aston Villa dan Sunderland membuktikan diri sebagai kekuatan baru, sementara Manchester City harus memasuki kehidupan tanpa Pep Guardiola.
Di sisi lain, Chelsea menghadapi tekanan untuk segera bangkit, sedangkan West Ham harus memulai perjuangan baru di Championship. ***
Editor : Agus Hidayat







