Wonosobo (Lintas Topik.com) —
Sarung kotak-kotak dan kaos singlet hitam masih melekat di tubuh Kaswono (65). Ia duduk di atas dingklik kayu, menatap sisa puing rumahnya yang hangus dilalap api.
Raut wajahnya tampak tegar, meski sorot matanya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan guncangan akibat musibah yang baru saja merenggut seluruh harta bendanya.
Sabtu malam itu, Dusun Krangean, Desa Banyukembar, Kecamatan Watumalang, masih diselimuti bau arang dan kayu terbakar. Di tengah suasana duka itu, rombongan Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Wonosobo datang menengok Kaswono dan istrinya, yang kini harus memulai segalanya dari nol.
Istri Kaswono tampak beberapa kali mengusap matanya. Tangisnya tertahan saat berbincang dengan Kepala Bidang Sosial Dinsos PMD Wonosobo, Hari Fetty Hartatip.
Sementara sanak saudara dan tetangga masih berkumpul, memberi dukungan moral kepada pasangan lansia tersebut.
“Tidak ada lagi yang tersisa. Semua harta yang saya miliki habis,” ujar Kaswono lirih.
Musibah itu terjadi Sabtu (10/1) sore.
Seperti hari-hari biasa, Kaswono bersama istrinya merebus kedelai untuk dibuat tempe. Ia menggunakan tungku kayu, bukan kompor gas. Di dapur sederhana itu, tumpukan kayu kering tersimpan tak jauh dari perapian.
Merasa lelah, keduanya kemudian beristirahat di kamar. Tak berselang lama, asap mulai memenuhi ruangan. Saat Kaswono bergegas ke dapur, api sudah membesar dan menjalar cepat.
Panik, ia dan istrinya berteriak meminta tolong. Warga berdatangan mencoba memadamkan api, namun kobaran terlalu besar.
Hampir seluruh isi rumah tak sempat diselamatkan. Bahkan uang tabungan sebesar Rp16 juta ikut hangus terbakar.
Di tengah keputusasaan itu, bantuan datang tanpa menunggu lama.
Hanya berselang beberapa jam setelah kejadian, Dinsos PMD Wonosobo bergerak cepat. Kabid Sosial Hari Fetty Hartati bersama tim turun langsung ke lokasi pada malam hari, membawa berbagai kebutuhan darurat.
Kasur, selimut, pakaian, perlengkapan dapur, paket family kit, hingga makanan siap saji diserahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar Kaswono dan istrinya.
“Kami berkomitmen memberikan bantuan secepat mungkin agar bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh korban. Ini adalah bentuk kepedulian kami di tahap awal pascakebakaran,” ujar Hari Fetty di lokasi kejadian.
Ia mengakui bantuan tersebut mungkin belum sebanding dengan kerugian yang dialami korban.
Namun, setidaknya kehadiran negara di tengah musibah diharapkan mampu menguatkan hati dan memberi harapan bagi Kaswono dan keluarganya.
Di antara puing-puing rumah yang tersisa, bantuan itu menjadi tanda bahwa mereka tidak sendiri.
Di saat segalanya terasa hilang, uluran tangan dan kepedulian menjadi penguat bagi mereka untuk kembali bangkit.***
Editor : Agus Hidayat
