Wonosobo (Lintas Topik.com) – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mencoba memainkan alat musik tradisional bundengan saat mengunjungi Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Senin (2/11/2026).
Dengan bimbingan Sri Mulyani, seniman sekaligus pendiri Sanggar Tari Ngesti Laras, Riefky belajar memetik dawai alat musik khas Wonosobo tersebut.
Suasana semakin menarik ketika Ananda Mikola, salah seorang murid sanggar, mulai melantunkan lagu mengikuti irama bundengan yang dimainkan sang menteri.
Perpaduan petikan dawai dan suara Ananda mengundang tepuk tangan warga serta pegiat seni yang hadir.
Di hadapan Mulyani, Riefky tampak memperhatikan setiap petunjuk sebelum mencoba memainkan bundengan. Alat musik berbahan bambu yang bentuknya menyerupai cangkang kura-kura itu memiliki dawai di bagian dalam yang menghasilkan bunyi khas.
Mulyani bukan nama baru dalam pelestarian seni tradisional Wonosobo. Sejak 1992, ia mengembangkan Sanggar Tari Ngesti Laras dengan fokus pada kesenian tradisional, terutama Tari Topeng Lengger. Sejak 2015, ia juga aktif memperkenalkan bundengan kepada generasi muda.
Upayanya membawa kesenian tersebut ke berbagai panggung, termasuk di Australia, Thailand, dan Jerman.
Ada hal lain yang menjadi perhatian dari sanggar yang dikelola Mulyani. Sanggar tersebut memberikan ruang bagi anak-anak penyandang disabilitas untuk mengembangkan bakat melalui seni pertunjukan.
Ananda Mikola menjadi salah satu anak yang mendapatkan kesempatan itu. Melalui kegiatan berkesenian, ia menemukan ruang untuk membangun kepercayaan diri dan tampil di hadapan publik.
Kunjungan Riefky ke Giyanti juga diisi dengan Workshop Harmoni Seni Pertunjukan yang melibatkan para pegiat seni.
Kegiatan ini membahas pengembangan kualitas pertunjukan, mulai dari koreografi, tata panggung, hingga kostum. Peserta juga mendapatkan materi mengenai pemasaran digital, penguatan identitas pertunjukan, dan peluang kemitraan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai kekayaan budaya yang dimiliki desa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan kesenian agar tetap dikenal.
Diperlukan upaya agar tradisi tersebut terus dipelajari generasi muda sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para pelakunya.
“Di Giyanti, kita melihat bagaimana sebuah warisan budaya bisa terus hidup karena ada orang-orang yang bersedia merawat dan mengajarkannya. Tugas kita memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Kita ingin tradisi tetap terjaga, anak-anak muda punya kesempatan mengembangkan bakatnya, dan karya-karya dari desa memiliki jalan untuk dikenal serta memberikan penghidupan bagi masyarakatnya,” ujar Riefky.
Selain pengembangan seni pertunjukan, Kementerian Ekonomi Kreatif juga mendorong penguatan ruang kreatif dan kapasitas pelaku usaha di Giyanti.
Sebanyak 80 peserta dari kalangan pelaku ekonomi kreatif, komunitas, serta unsur pemerintah desa dan daerah mengikuti kegiatan pengembangan produk, penguatan jejaring, dan pemasaran produk lokal.
Kementerian juga menggelar Workshop SIAP Talenta Jasa TIK bertema “AI sebagai Asisten Usaha: Kerja Lebih Ringkas, Keputusan Lebih Tepat” yang diikuti 50 peserta.
Dalam kegiatan tersebut, praktisi teknologi informasi Kuntjoro Pinardi memberikan materi tentang pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu pekerjaan rutin, meningkatkan efisiensi usaha, serta mengolah data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Riefky mengatakan, potensi ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar.
Desa juga memiliki kekayaan budaya, kreativitas, sumber daya manusia, dan kearifan lokal yang bisa dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.
“Yang kita dorong bukan hanya supaya sebuah desa bisa menampilkan kesenian atau menghasilkan produk kreatif. Lebih dari itu, kita ingin masyarakatnya menjadi pelaku utama, anak-anak mudanya punya ruang untuk berkarya, tradisinya tetap hidup, dan yang paling penting: kreativitas itu bisa menghasilkan nilai tambah serta membuka lapangan usaha,” katanya.
Kegiatan di Giyanti merupakan bagian dari program Aktivasi Desa Kreatif yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mendorong potensi budaya dan kreativitas masyarakat desa agar berkembang menjadi peluang ekonomi.
Riefky berharap program tersebut mampu memperkuat kemandirian komunitas melalui kolaborasi antara masyarakat, sanggar seni, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pelaku industri kreatif.
Ia juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan dalam menjaga kesenian tradisional agar tidak sekadar menjadi cerita tentang masa lalu.
“Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa menceritakan bahwa dulu Wonosobo punya bundengan, dulu ada Topeng Lengger, dan dulu anak-anak belajar gamelan. Kita ingin kesenian itu tetap dimainkan hari ini, dipelajari anak-anak esok hari, dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat,” ujar Riefky.***
Editor : Agus Hidayat
