Wonosobo (Lintas Topik.com) – Komoditas Ubi Madu di Kabupaten Wonosobo menunjukkan performa positif setelah panen demplot di Kenteng, Kejiwan dan Besani, Leksono pada Selasa (9/12/2025). Dari dua lokasi tersebut, produktivitas tercatat stabil di kisaran 12–13 ton per hektare, menegaskan potensi besar varietas lokal ini untuk memperluas pasar hingga mancanegara.
Wakil Ketua KTNA Wonosobo, Untungno, mengatakan panen dilakukan di lahan mendekati dua hektare dengan produktivitas hampir seragam.
“Hari ini panen di dua titik, Kenteng dan Besani. Total hampir dua hektare dan hasilnya rata-rata 12 sampai 13 ton per hektare,” ujarnya.
Saat ini terdapat 21 petani yang membudidayakan Ubi Madu dengan total luasan sekitar 9 hektare. Untungno sendiri mengelola lahan lebih luas, termasuk memanfaatkan lahan tidur yang sebelumnya tidak digunakan.
“Saya mengolah sekitar 15 hektare. Termasuk tambahan lahan Kodim yang sebelumnya nganggur itu, totalnya sekitar 4,5 hektare,” terangnya.
Pembagian Grade Tentukan Harga dan Jalur Pemasaran
Kualitas umbi menjadi faktor utama dalam menentukan harga jual maupun tujuan pemasaran. Untuk grade A, harga ditetapkan sekitar Rp6.000 per kilogram dan produk kategori ini diprioritaskan untuk ekspor ke Singapura. Grade B dengan harga Rp4.000 per kilogram disalurkan ke jaringan supermarket. Sementara grade C dipasarkan ke toko atau kios olahan Ubi Madu ovenan. Adapun grade D, yang dibanderol sekitar Rp2.000, dialokasikan untuk industri pengolahan seperti keripik, grubi, hingga saus berbahan dasar ubi.
Menurut Untungno, pengelompokan kualitas merupakan faktor strategis yang menjaga konsistensi pasokan di tiap segmen pasar.
“Kami menggunakan sistem grade untuk memastikan jalur pemasaran berjalan tepat. Grade A khusus ekspor, sisanya disesuaikan kebutuhan pasar domestik,” jelasnya.
Usia Panen Dipengaruhi Kondisi Tanah
Walau standar panen berada pada usia empat bulan, tingkat kesuburan tanah dinilai lebih menentukan cepat lambatnya masa panen.
“Kalau tanahnya sangat subur, tiga bulan sudah bisa panen. Tapi kalau kurang subur bisa sampai lima bulan. Jadi empat bulan itu bukan patokan baku,” kata Untungno.
Dengan hasil yang konsisten tinggi dan kanal pemasaran yang kian terbuka, Ubi Madu Wonosobo terus menunjukkan prospek kuat sebagai komoditas unggulan daerah, terutama dengan makin terbukanya peluang ekspor ke Singapura.***
Editor : Agus Hidayat
