Wonosobo (Lintas Topik.com) — Di atas ring, Fitdya Nur Rohmah sempat merasa napasnya hampir habis. Lawannya dari Kabupaten Pekalongan terus memberikan tekanan. Pertandingan final cabang olahraga tinju Porprov Jawa Tengah 2026 itu berlangsung ketat, dengan selisih nilai yang tipis.
Tubuhnya mulai kelelahan. Namun, petinju muda asal Jaraksari, Kabupaten Wonosobo, itu belum ingin menyerah. Ia berusaha mengambil napas, mengumpulkan tenaga yang tersisa, lalu kembali berjuang mengejar nilai.
“Saya sempat didorong-dorong, napas sudah hampir habis, tapi saya berusaha mengambil napas lagi biar bisa mengejar nilai,” tuturnya seusai pertandingan.
Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Fitdya berhasil meraih medali emas Porprov Jateng 2026.
Bagi perempuan muda yang akrab dengan dunia bela diri sejak masa sekolah itu, kemenangan tersebut bukan sekadar hasil dari beberapa ronde pertandingan. Ada proses panjang, kegagalan, pengorbanan, dan latihan yang melelahkan sebelum ia akhirnya berdiri di podium tertinggi.
“Puas, Alhamdulillah,” katanya singkat.
Jawaban itu sederhana. Namun, di baliknya tersimpan cerita tentang seorang atlet yang memilih bertahan ketika jalan menuju kemenangan tidak selalu mudah.
Mimpi Bela Diri yang Sempat Tertunda
Ketertarikan Fitdya terhadap bela diri sudah muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, ia sempat ingin belajar kempo. Namun, pandemi Covid-19 membuat keinginannya tertunda.
Ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang MTs, kesempatan untuk menekuni bela diri juga belum datang. Keinginan itu baru menemukan jalannya ketika ia duduk di kelas satu SMK.
Saat itu, Fitdya mulai mengenal Muay Thai. Dari pengalaman tersebut, ia semakin tertarik menekuni olahraga pertarungan hingga kemudian mencoba tinju.
Perjalanannya tidak langsung dihiasi kemenangan. Dalam sebuah ajang BKPRO, ia pernah turun di kelas 63 kilogram, tetapi belum berhasil meraih juara.
Kegagalan itu menjadi bagian dari prosesnya sebagai atlet. Ia terus melangkah, hingga kemudian mendapat kesempatan bertanding di kelas 57 kilogram.
Namun, kesempatan tersebut datang bersama tantangan yang tidak ringan: berat badannya harus turun tujuh kilogram dalam waktu satu bulan.

Tujuh Kilogram dan Latihan yang Menguras Tenaga
Menyesuaikan berat badan untuk memenuhi kelas pertandingan menjadi salah satu perjuangan berat Fitdya. Dalam waktu sebulan, ia harus menurunkan tujuh kilogram sembari tetap mempersiapkan diri menghadapi lawan.
Pola makan harus dijaga. Porsi makanan tidak bisa lagi sebebas sebelumnya. Sementara itu, latihan fisik tetap berjalan dan tubuh dituntut memiliki tenaga untuk bertanding.
Persiapan menghadapi Porprov pun berlangsung sekitar dua bulan, lebih singkat daripada waktu persiapan yang menurutnya ideal.
Fitdya menjalani latihan dua kali sehari. Rasa lelah, lemas, dan jenuh sesekali datang, terlebih ketika ia harus mengendalikan pola makan di tengah aktivitas fisik yang berat.
“Capek, lemes karena kita turun berat badan, kita nggak boleh makan banyak, harus jaga makan,” ungkapnya.
Bagi Fitdya, latihan bukan hanya perkara memukul samsak atau meningkatkan kemampuan bertahan. Ia juga harus melawan rasa bosan dan menjaga kedisiplinan ketika tubuh meminta istirahat.
Meski demikian, perjuangan menurunkan berat badan secara cepat bukan sesuatu yang seharusnya ditiru tanpa pendampingan. Bagi atlet, pengaturan berat badan perlu memperhatikan kesehatan dan kebutuhan energi agar tidak mengganggu performa saat bertanding.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Fitdya menuju Porprov. Ia harus belajar menghadapi tuntutan olahraga yang tidak hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga kesabaran dan pengendalian diri.
Semifinal yang Lebih Berat, Final yang Menentukan
Sebelum mencapai partai final, Fitdya terlebih dahulu melewati pertandingan semifinal melawan petinju dari Kota Semarang. Ia menyebut laga tersebut sebagai pertandingan paling berat selama mengikuti kompetisi itu.
Pertarungan semifinal menjadi ujian penting sebelum dirinya melangkah ke pertandingan penentuan. Setelah berhasil melewatinya, Fitdya kembali harus mengerahkan kemampuan terbaik saat berhadapan dengan lawan dari Kabupaten Pekalongan.
Final itu tidak berjalan mudah. Tekanan dari lawan membuat tenaganya terkuras, sementara selisih nilai yang tipis menuntutnya tetap fokus hingga pertandingan berakhir.
Dalam situasi tersebut, Fitdya berusaha bertahan dan mengejar nilai. Ia tidak bisa sekadar mengandalkan kekuatan pukulan, tetapi juga harus menjaga konsentrasi ketika tubuh mulai lelah.
Usahanya terbayar dengan medali emas.
Kemenangan itu menjadi pencapaian penting dalam perjalanan olahraga yang mulai ia tekuni sejak remaja. Dari pengalaman pernah gagal menjadi juara hingga menghadapi ketatnya pertandingan tingkat provinsi, Fitdya mendapatkan pelajaran bahwa hasil akhir tidak bisa dilepaskan dari proses yang dijalani sebelumnya.
Dari Jaraksari, Menatap Masa Depan
Fitdya kini memiliki pengalaman berharga sebagai peraih medali emas Porprov Jateng 2026. Namun, ia tidak ingin berhenti sampai di sini.
Alumni SMKN 2 Wonosobo itu masih ingin melanjutkan perjalanan di dunia tinju. Ia berharap dapat terus berlatih, meningkatkan kemampuan, dan kembali membawa prestasi.
Di luar ring, Fitdya juga memikirkan masa depannya melalui pendidikan. Ia memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan).
Dua hal itu kini menjadi bagian dari cita-citanya: terus berkembang sebagai atlet sekaligus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Jalan menuju cita-cita tersebut tentu masih panjang. Prestasi olahraga membutuhkan latihan dan konsistensi, sementara pendidikan memerlukan persiapan serta pemenuhan persyaratan masuk perguruan tinggi.
Namun, kemenangan di Porprov telah memberinya satu pengalaman penting: ia tahu bagaimana rasanya menghadapi tantangan, melewati kegagalan, dan terus berusaha ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Kisah Fitdya bukan tentang seseorang yang selalu menang sejak awal. Ia pernah gagal, pernah merasa lelah, dan pernah menghadapi tuntutan yang tidak ringan. Justru dari proses itulah perjalanannya menjadi menarik.
Dari Jaraksari, ia membawa pulang medali emas sekaligus pengalaman yang akan menjadi bekal untuk langkah berikutnya.
Di atas ring, ia sempat kehabisan napas. Tetapi ia berusaha mengambil napas sekali lagi, lalu melanjutkan pertarungan.
Dan kali ini, perjuangannya mengantarkan Fitdya Nur Rohmah ke podium tertinggi Porprov Jateng 2026. ***
Editor : Agus Hidayat







