Ad imageAd image

Gempa M7,7 Guncang NTT, Mendikdasmen Mulai Petakan Sekolah dan Siswa Terdampak

Lintas Topik Author
6 Min Read
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menandatangani prasasti tanda peresmian Gedung MBS SMA Muhammadiyah Kertek Wonosobo, Sabtu ( 15/8/2026). ( LT/ Ida Agus)

Wonosobo (Lintas Topik.com) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi, tidak hanya menyisakan persoalan keselamatan warga. Pemerintah juga mulai menghadapi ancaman terganggunya layanan pendidikan bagi siswa di wilayah terdampak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan kementeriannya tengah mengumpulkan data mengenai sekolah dan peserta didik yang terdampak gempa.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti usai menghadiri tabligh akbar sekaligus meresmikan Gedung MBS SMA Muhammadiyah Kertek, Kabupaten Wonosobo, Sabtu (15/8/2026).

“Kami sementara data mengenai sekolah-sekolah yang terdampak dan juga murid-murid yang terdampak,” kata Abdul Mu’ti.

Ia mengakui, hingga saat ini kementeriannya belum memiliki angka pasti mengenai jumlah sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa.

“Belum, sekarang masih dalam proses,” ujarnya ketika ditanya mengenai jumlah sekolah terdampak.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Gempa tersebut terjadi sekitar pukul 04.58 WIB dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. BMKG mencatat gempa berkekuatan M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer dan mekanisme sesar naik atau thrust fault. Gempa sempat memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB.

Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah NTT hingga Nusa Tenggara Barat. Laporan awal juga menunjukkan adanya kerusakan bangunan dan fasilitas umum di sejumlah daerah, meski pendataan kerusakan masih terus berlangsung.

Kondisi tersebut menjadi perhatian sektor pendidikan karena kerusakan bangunan sekolah dapat langsung mengganggu proses belajar mengajar. Selain kerusakan fisik, siswa dan guru yang menjadi korban bencana juga membutuhkan penanganan agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan.

Abdul Mu’ti mengatakan Kemendikdasmen memiliki satuan yang berkaitan dengan penanganan pendidikan dalam situasi bencana. Menurut dia, pemerintah sebelumnya juga memberikan dukungan pendidikan di wilayah Maumere dan kawasan terdampak erupsi Lewotobi.

“Dulu juga kita di Maumere, di Lewotobi juga banyak memberikan bantuan, mendirikan sekolah di sana,” katanya.

Ia mengatakan langkah selanjutnya akan ditentukan setelah data dari lapangan terkumpul.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Kami sedang memberikan perhatian terhadap anak-anak yang terdampak oleh bencana itu dan nanti kita akan lihat apa yang bisa kita lakukan berdasarkan pengumpulan data yang dihimpun oleh tim kami yang ada di lapangan,” ujarnya.

Ketua Pengurus Cabang Muhammaddiyah Kertek, Ony Feriyanto saat memberikan keterangan pers. ( LT / Ida agus)

MBS Kertek Siapkan Ekspansi Pendidikan

Di tengah persoalan pendidikan akibat bencana tersebut, Abdul Mu’ti pada hari yang sama meresmikan gedung baru Muhammadiyah Boarding School (MBS) SMA Muhammadiyah Kertek, Wonosobo.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kertek Ony Ferianto mengatakan pembangunan gedung tersebut merupakan tahap ketiga pengembangan MBS yang berdiri sejak 2017.

Gedung empat lantai itu dibangun dengan anggaran sekitar Rp5 miliar. Sementara pembelian lahan sebelumnya menelan sekitar Rp1,6 miliar sehingga total investasi yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp6,6 miliar.

“Alhamdulillah MBS yang berdiri sejak 2017, kurang lebih sejak sembilan tahun ini. Ini pembangunan tahap ketiga yang diresmikan oleh Pak Menteri,” kata Ony.

Menurut dia, pengembangan MBS tidak berhenti pada pembangunan gedung. Lembaga tersebut juga mulai menyiapkan program pendidikan internasional dengan rencana mengirimkan siswa untuk belajar ke Kairo dan Madinah.

Mulai tahun ajaran 2027/2028, MBS Kertek menargetkan dapat memberangkatkan sekitar empat hingga enam siswa untuk mengikuti pendidikan di kedua kota tersebut.

“Insya Allah mulai tahun depan, 2027-2028, kita sudah memberangkatkan empat sampai enam orang anak untuk belajar di sana,” ujarnya.

Saat ini kompleks Perguruan Muhammadiyah Kertek memiliki lahan sekitar 7.600 meter persegi untuk pengembangan SMP dan SMA.

Ony mengatakan Muhammadiyah juga memperoleh komitmen wakaf lahan sekitar dua hektare di wilayah Kertek yang direncanakan menjadi lokasi pengembangan MBS berikutnya.

“Insya Allah akan kita bangun nanti di dua tahun yang akan datang. Ini tahap ketiga untuk meneruskan pembangunan yang sudah ada,” katanya.

Dengan tambahan empat gedung baru, MBS ditargetkan memiliki 16 ruang kelas sekaligus fasilitas asrama. Jumlah siswa yang saat ini sekitar 185 orang diharapkan meningkat menjadi sekitar 290 siswa.

Ony mengatakan kehadiran Abdul Mu’ti sekaligus menjadi dorongan bagi pengembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah di Kertek.

Menurut dia, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah juga berpesan agar Muhammadiyah terus membangun komunikasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.

“Pak Menteri sangat antusias dan mendukung sekali sesuai dengan program kementerian. Beliau berpesan kepada kita untuk selalu menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat pada umumnya,” ujar Ony.

Bagi Muhammadiyah Kertek, pembangunan fisik MBS menjadi bagian dari upaya memperluas layanan pendidikan. Sementara bagi pemerintah, gempa NTT kembali mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di dalam kelas, tetapi juga oleh kemampuan negara memastikan sekolah tetap berdiri dan anak-anak tetap dapat belajar ketika bencana datang. ***

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment