Ad imageAd image

Pernah Menulis Gelar Profesor Saat SMP, Ahmad Khoiri Kini Jadi Profesor Termuda Indonesia 

Lintas Topik Author
5 Min Read
Profesor Dr. Ahmad Khoiri S.Pd, M.Pd menjadi profesor termuda di bidang Kepakaran IPA se Indonesia. ( LT / Ida Agus)

Wonoobo(LintasTopik.com) – Saat masih duduk di bangku SMP, Ahmad Khoiri pernah menuliskan gelar profesor di depan namanya. Sebuah cita-cita yang mungkin terdengar terlalu tinggi bagi seorang anak dari desa kecil di pinggiran Wonosobo. 

Namun, tulisan itu bukan sekadar angan-angan. Bertahun-tahun kemudian, apa yang pernah dibayangkannya benar-benar terwujud. Pada usia 35 tahun, Ahmad Khoiri resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo, Rabu (4/11/2026). 

Ia tercatat sebagai profesor termuda di Indonesia dalam bidang kepakaran Pendidikan IPA. Pengukuhan tersebut sekaligus menambah jumlah guru besar Unsiq menjadi tiga orang. 

Ahmad lahir di Desa Lancar, Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo, pada 10 November 1990. Desa tersebut berada di wilayah pinggiran, sekitar 45 kilometer dari ibu kota kabupaten. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. 

Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Hidayatussibyan Lancar dan lulus pada 2001. Ia kemudian melanjutkan ke MTs Hidayatussibyan Lancar hingga 2004, sebelum bersekolah di SMA Ma’arif Wadaslintang pada 2007–2011. 

Dari desa tempat ia dibesarkan, langkah akademiknya kemudian berlanjut ke perguruan tinggi. Ahmad mengambil program S1 Pendidikan Fisika di Unsiq dan lulus pada 2011 sebagai wisudawan terbaik. 

- Advertisement -
Ad imageAd image

Ia tidak berhenti sampai di situ. Pendidikan magister Pendidikan IPA konsentrasi Fisika ditempuh di Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 2012–2014. Selanjutnya, ia menyelesaikan pendidikan doktoral Pendidikan IPA di Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 2021. 

Perjalanan kariernya sebagai dosen Unsiq dimulai pada 2014. Dua tahun kemudian, ia memperoleh jabatan Asisten Ahli. Karier akademiknya terus berkembang menjadi Lektor pada 2018, Lektor Kepala pada 2023, hingga akhirnya mencapai jabatan profesor pada 2026. 

Kini, selain menjadi guru besar, Ahmad juga menjabat Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Unsiq periode 2025–2029. 

Di tengah perjalanan akademiknya, Ahmad juga membangun keluarga bersama perempuan yang dikenalnya sejak masa kuliah. Sang istri merupakan teman satu angkatan saat menempuh pendidikan di Unsiq. Keduanya kini telah dikaruniai tiga orang anak. Menariknya, sang istri juga tengah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Membawa kearifan desa ke ruang akademik 

Latar belakang kehidupan di desa ternyata tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu Ahmad. Pengalaman itu justru ikut membentuk gagasan akademik yang kini dikembangkannya. 

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besar bertajuk Rekonstruksi Pendidikan IPA Berbasis Etno-STEM Terintegrasi Islamic Value, Ahmad mengangkat kearifan lokal sebagai salah satu sumber pembelajaran sains. 

Menurutnya, ilmu IPA tidak seharusnya hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas atau eksperimen di laboratorium. Tradisi, budaya, dan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat juga dapat menjadi sumber pembelajaran. 

“Saya terlahir dari desa. Saya tidak menganggap itu sebagai kelemahan, justru sebagai aset. Sumber daya yang ada di desa, termasuk kearifan lokal, bisa dijadikan bagian dari rekonstruksi pendidikan IPA yang saya tekuni saat ini,” ungkapnya. 

Melalui pendekatan etnosains dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), ia berupaya menghubungkan pengetahuan lokal dengan perkembangan sains dan teknologi, kemudian mengintegrasikannya dengan nilai-nilai Islam. 

Baginya, belajar sains bukan hanya tentang memahami rumus dan konsep. Pendidikan juga harus mampu membentuk karakter, menumbuhkan rasa syukur, tanggung jawab, ketekunan, dan kejujuran. 

Dalam perjalanan akademiknya, Ahmad juga telah mengantongi puluhan penghargaan dan rekognisi nasional maupun internasional. Di antaranya penghargaan Best Presenter dalam konferensi internasional serta keterlibatan dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Kuala Lumpur dan Thailand. 

Meski telah mencapai jabatan akademik tertinggi, Ahmad tidak menganggap pengukuhan profesor sebagai akhir perjalanan. Justru, gelar tersebut membawa tanggung jawab lebih besar agar ilmu yang dikembangkan dapat memberikan manfaat lebih luas. 

“Setelah menjadi guru besar, bagaimana ilmu yang saya miliki bisa semakin berdampak bagi masyarakat. Bukan hanya di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga di tengah masyarakat,” katanya. 

Dari Desa Lancar yang berjarak puluhan kilometer dari pusat kota, Ahmad kini mencapai salah satu puncak perjalanan akademiknya. Gelar profesor yang pernah dituliskannya saat SMP akhirnya bukan lagi sekadar cita-cita. Ia berhasil mewujudkannya melalui perjalanan pendidikan dan pengabdian yang panjang.*** 

Editor : Agus Hidayat 

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment