Wonosobo (Lintas Topik.com) — Denting gamelan memecah suasana Alun-alun Wonosobo, Jumat (24/7/2026). Tak lama kemudian, ratusan pelajar dengan balutan kebaya hitam dan jarik melangkah serempak sambil membawa tenong.
Gerakan mereka yang kompak sontak menyita perhatian ribuan warga yang memadati alun-alun untuk menyaksikan rangkaian Pisowanan Agung Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.
Sebanyak 170 pelajar dari 42 SMP se-Kabupaten Wonosobo membawakan Tari Kolosal Grebeg Tenong. Penampilan yang berlangsung sekitar enam menit itu menjadi pembuka sebelum prosesi adat Pisowanan Agung dimulai.
Tak sedikit penonton mengabadikan penampilan tersebut menggunakan telepon genggam. Sesekali tepuk tangan terdengar ketika para penari berpindah formasi dengan rapi mengikuti iringan gamelan yang dimainkan secara langsung.
Di balik penampilan yang memukau itu, tersimpan persiapan yang tidak sederhana. Para penari hanya memiliki waktu sekitar dua pekan untuk berlatih.
Dalam kurun waktu tersebut, mereka menjalani empat tahapan latihan, mulai dari pengenalan gerak, pembentukan formasi, gladi kotor hingga gladi bersih.
Kepala Sekolah Pendamping MGMP Seni Budaya Kabupaten Wonosobo, Ina Wijayanti, mengatakan semangat para siswa menjadi modal utama hingga tarian kolosal itu dapat ditampilkan dengan baik.
“Anak-anak cepat sekali mempelajari gerakan dan formasinya. Tantangannya justru menyamakan setiap gerakan dengan iringan gamelan yang dimainkan secara langsung. Alhamdulillah semuanya bisa menyatu,” katanya.
Persiapan para penari bahkan dimulai sejak dini hari. Proses rias dilakukan mulai pukul 02.00 WIB dan harus selesai sebelum pukul 07.00 WIB agar seluruh peserta dapat berkumpul di sekitar Pendopo Kabupaten sebelum tampil.
Setiap sekolah menyiapkan sendiri kostum, rias wajah, hingga properti tenong yang menjadi ciri khas tarian tersebut.
Waket Persudi Puger yang juga anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Kabupaten Wonosobo menjelaskan, Tari Grebeg Tenong lahir dari tradisi masyarakat Wonosobo yang telah berlangsung turun-temurun setiap bulan Suro atau Muharam.
Inspirasi tarian diambil dari tradisi tenongan, yakni kebiasaan masyarakat membawa tenong berisi aneka makanan dan jajanan untuk kemudian didoakan serta dinikmati bersama sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan rezeki yang diperoleh.
“Tradisi itu masih ada sampai sekarang. Dalam tari ini kami mencoba menggambarkan perjalanan masyarakat, mulai dari bekerja, bersyukur, mengarak tenong hingga hadirnya pertunjukan rakyat seperti lengger yang menjadi bagian dari tradisi tersebut,” jelasnya.
Menurut Waket, Tari Grebeg Tenong merupakan karya tari baru yang lahir dari inisiatif MGMP Seni Budaya Kabupaten Wonosobo.
Ketua MGMP Seni Budaya SMP, Nuning Kurniasih mengatakan awalnya, koreografi tersebut disusun untuk memenuhi kebutuhan karya orisinal pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), kemudian dikembangkan melalui lokakarya bagi guru-guru seni budaya di Wonosobo.
“Karena sudah pernah di-workshop-kan kepada guru-guru, anak-anak di sekolah tidak lagi asing dengan gerakannya. Itu yang membuat proses latihan menjadi lebih cepat,” ujarnya.
Penampilan Tari Kolosal Grebeg Tenong pada Hari Jadi
ke-201 Kabupaten Wonosobo bukan sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat. Lebih dari itu, ratusan pelajar yang tampil di tengah alun-alun menjadi wajah generasi muda yang ikut merawat tradisi daerah melalui seni pertunjukan.
Di tengah perayaan hari jadi, tarian itu seolah mengingatkan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. ***
Editor : Agus Hidayat
