Wonosobo (LintasTopik.com) — Sistem peringatan dini banjir atau Early Warning System (EWS) di Kampung Ngedam, Kelurahan Pagerkukuh Wonosobo, justru baru berbunyi setelah banjir dari Sungai Siwuni terjadi dan merendam rumah warga, Jumat (4/4/2026).
Akibat peristiwa tersebut, 18 rumah warga dilaporkan terdampak banjir dengan ketinggian air yang masuk ke rumah berkisar 50 hingga 60 sentimeter dan bercampur lumpur.
Ketua RT 02 RW 08 Kampung Ngedam, Malindra Anji, mengatakan banjir terjadi setelah hujan deras yang disertai angin kencang, petir, bahkan hujan es pada Jumat sore.
Menurutnya, hujan mulai turun sekitar pukul 14.30 hingga 15.00 WIB. Tidak lama setelah hujan reda, air dari Sungai Siwuni tiba-tiba meluap dengan cepat.
“Setelah hujan reda, banjir datang langsung. Dalam hitungan detik air meluap tinggi, sekitar dua meter di aliran sungai,” kata Anji, Sabtu (4/4/2026).
Ia menjelaskan Sungai Siwuni memiliki dua sumber aliran utama, yakni dari wilayah Mudal dan Candi Rejo (Limbangan) yang kemudian bertemu di wilayah Bangsri sebelum mengalir ke kawasan permukiman warga di Kemiri.
Menurutnya, debit air sungai memang kerap meningkat saat hujan deras, namun biasanya relatif cepat surut. Namun derasnya arus pada kejadian kali ini menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian tebing sungai.
“Setelah air mulai surut, tebing sungai di salah satu titik patah dan ambles. Di dekat jembatan juga terjadi kerusakan pada senderan sungai,” ujarnya.
Anji memperkirakan tingkat kerusakan rumah warga berada pada skala 6 hingga 7 dari 10, terutama pada bagian senderan atau penahan tebing sungai yang jebol akibat derasnya arus air.
Selain itu, pada Sabtu pagi warga juga menerima laporan tambahan bahwa senderan di bagian hulu sungai kembali ambruk, sehingga memunculkan kekhawatiran terjadinya banjir susulan apabila hujan deras kembali turun.

Warga Butuh Kasur
Kerugian material sementara didominasi kerusakan perabot rumah tangga. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan barang elektronik milik warga.
“Elektronik belum ada laporan. Tapi karpet, kasur, selimut dan barang rumah tangga lainnya ada sekitar sepuluh yang perlu diganti,” kata Anji.
Ia menyebutkan kasur menjadi kebutuhan paling mendesak, karena sebagian besar berbahan kapas dan membutuhkan waktu lama untuk dikeringkan setelah terendam air.
Di RT tersebut tercatat terdapat sekitar 43 kepala keluarga (KK).
Air Sampai Melewati Jembatan
Warga senior setempat, Mbah Ratno, mengatakan banjir kali ini cukup besar karena air bahkan meluap melewati tanggul sungai setinggi lebih dari satu meter.
“Air sampai melewati atas jembatan. Jadi memang sangat besar volume airnya,” ujarnya.
Rumah Mbah Ratno juga ikut tergenang sehingga sejumlah perabot seperti kasur menjadi basah.
Ia juga menyebut kondisi tanggul sungai saat ini retak dan terancam ambrol jika terjadi banjir susulan.
Rumah di Bibir Sungai Ambrol
Sementara itu, Imam, warga yang rumahnya berada paling dekat dengan bibir sungai, mengaku kaget saat banjir datang. Curah hujan tinggi membuat aliran sungai meluap dengan cepat.
Bagian bawah rumahnya yang berada tepat di tepi sungai ambrol akibat tergerus arus, sehingga rumah tersebut untuk sementara harus dikosongkan.
“Biasanya banjir itu siklusnya empat tahunan, tapi ini baru tiga tahun sudah terjadi lagi,” katanya.
Pada Sabtu pagi, sejumlah warga terlihat membersihkan lumpur dari rumah serta menjemur kasur dan perabot yang terendam banjir.
Menurut Ketua RT i, wilayah tersebut sebelumnya memang pernah mengalami banjir sekitar tiga tahun lalu. Setelah kejadian itu, kawasan bantaran sungai sempat dipasangi Early Warning System (EWS) serta penguatan tebing menggunakan bronjong.
Namun saat banjir terjadi kemarin, sistem peringatan dini tersebut tidak berfungsi.
“Tadi pagi malah EWS-nya baru berfungsi, setelah kejadian banjir,” pungkasnya.***
Editor : Agus Hidayat







