Ad image

Halaqah Pesantren Wonosobo Bahas Revitalisasi Pendidikan Karakter di Era Digital

73 Views
2 Min Read
DR Sari Hernawati menyampaikan materi tentang Peran Strategis Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua. ( LT / Ida Agus)

Wonosobo (LintasTopik.com) — Ratusan perwakilan pondok pesantren di Wonosobo mengikuti Halaqah Pesantren bertema Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren yang digelar di Hotel Dafam Wonosobo, Senin (8/12).

Kegiatan yang diselenggarakan Bidang PD Pontren Kanwil Kemenag Jawa Tengah itu menyoroti tantangan pesantren dalam menjaga tradisi pendidikan karakter di tengah perubahan sosial yang cepat.

KH Ngarifin Sidiq yang menjadi salah satu nara sumber  menilai persoalan karakter masih menjadi pekerjaan besar dalam pendidikan Indonesia. Ia menegaskan pesantren tetap menjadi rujukan utama pembentukan akhlak.


“Pendidikan kita masih terlalu berorientasi pada kognitif, sementara nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan etika sosial mulai melemah,” ujarnya.

Pesantren juga dihadapkan pada tuntutan modernisasi. Ngarifin menyebut pesantren perlu menyeimbangkan tradisi kitab kuning dengan literasi teknologi dan kemampuan berpikir kritis agar tetap relevan di era digital.

Sedangkan KH Sonhaji, menyoroti pentingnya menjaga makna kegiatan rutin pesantren. Ia menjelaskan bahwa aktivitas seperti salat berjamaah, ngaji, dan mujahadah telah lama menjadi media pembentukan karakter, namun perlu terus dievaluasi.
“Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan bisa kehilangan makna jika tidak dijaga substansinya,” katanya.

- Advertisement -

Narasumber ketiga, Dr. Sari Hernawati, memaparkan posisi strategis pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara.

Ia menilai pesantren berperan penting dalam moral, spiritual, adab, dan riyadhah. Namun menurutnya, ada tantangan nyata seperti minimnya integrasi teknologi, polarisasi agama, kelelahan mental, dan kapasitas pengajar yang perlu diperkuat.

Dalam sesi wawancara terpisah, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Wonosobo, Fakih Khusni, menjelaskan bahwa Wonosobo memiliki 227 pesantren yang masih mempertahankan karakter tradisional.

 Meski demikian, santri dinilai cukup adaptif karena sebagian besar juga menempuh pendidikan formal, sehingga digitalisasi pesantren disebut sebagai kebutuhan mendesak.

Terkait isu penurunan jumlah santri pascapandemi, Fakih menyebut belum ada indikasi signifikan di Wonosobo.

 Bahkan beberapa pesantren melaporkan peningkatan jumlah santri setiap tahun. Ia juga menilai rencana pembentukan Direktorat Jenderal PD Pontren sebagai sinyal dukungan negara yang lebih kuat terhadap pengembangan pesantren.***

- Advertisement -

Editor : Agus Hidayat

Share This Article
Lintas Topik adalah media online yang memuat berbagai berita dalam berbagai genre. Namun lebih berfokus pada konten lokal dan olah raga. Dikelola oleh tenaga jurnalis yang berkompeten di bidang media. Selain itu Lintas Topik juga memiliki chanel Podcsat yang secara rutin disiarkan dua kali seminggu di dua Radio Radio Citra Fm, Purnamasidi Fm dan Channel Youtube.
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version