Wonosobo (Lintas Topik.com) — Dari jalan besar yang menghubungkan Kertek dengan arah Kota Temanggung, sebuah gapura lingkungan berdiri menjadi penanda masuk RT 05/RW 02 Kampung Campursari, Kelurahan Kertek. Letaknya mudah dikenali karena berada tepat di sisi jalan utama, berbatasan langsung dengan Kantor Pos Kertek.
Begitu melewati gapura, suasana jalan kampung seketika berubah.
Sekitar 100 meter jalan lingkungan membentang ke dalam permukiman. Tembok tinggi dan kokoh berada di sisi kanan jalan, sementara nuansa merah putih mulai memenuhi pandangan. Tembok-tembok di sejumlah bagian dicat dengan warna merah putih. Bendera-bendera kecil dipasang berderet sepanjang jalan.
Di antara ornamen itu, foto-foto pahlawan turut menghiasi lorong.
Jika dilihat dari jalan utama, perubahan suasana itu sudah terlihat sejak pintu masuk. Namun, semakin masuk ke dalam, semakin banyak detail yang ditemukan.
Bendera Merah Putih tidak hanya dipasang di gapura. Warga memasangnya di berbagai sudut lingkungan, membuat warna merah putih seperti mengikuti siapa pun yang berjalan menyusuri kampung.
Tidak ada kesan bahwa dekorasi hanya dibuat untuk satu titik yang kemudian selesai. Warga menata ruang lingkungan secara menyeluruh.

RT 05/RW 02 sendiri bukan lingkungan dengan jumlah warga yang besar. Sekitar 35 kepala keluarga atau kurang lebih 100 warga tinggal di kawasan tersebut. Namun, ukuran kampung yang relatif kecil justru membuat hasil penataannya terasa dekat dan personal.
Di beberapa bagian, taman-taman lingkungan dipenuhi tanaman hijau. Tanaman obat keluarga atau toga tumbuh di antara ruang-ruang permukiman. Lingkungan yang bersih dan hijau itu menjadi kontras alami dengan merah putih yang kini mendominasi lorong.
Ada pula fasilitas sederhana yang menunjukkan bahwa perhatian warga terhadap lingkungan tidak berhenti pada keindahan.
Sebuah peta lingkungan RT dipasang untuk memudahkan orang menemukan rumah warga. Nama-nama rumah tercantum di dalamnya. Bagi kurir ekspedisi atau tamu yang baru pertama kali datang, peta tersebut menjadi petunjuk yang praktis.
Jalan kampung yang berkelok juga mendapat perhatian.
Di beberapa tikungan, warga memasang cermin cembung untuk membantu pengguna jalan melihat kendaraan dari arah berlawanan. Dengan jarak pandang yang terbatas di tikungan, keberadaan cermin tersebut membuat warga lebih mudah memperkirakan kondisi jalan sebelum melintas.
Untuk keamanan, empat kamera CCTV juga terpasang di lingkungan tersebut.
Semua fasilitas itu menjadi bagian dari kehidupan kampung sehari-hari. Bukan dekorasi yang hanya muncul ketika Agustus datang.

Namun, Agustus memang membawa perubahan tersendiri.
Tahun ini warga memilih konsep merah putih yang lebih kuat. Tembok dicat dengan nuansa merah putih, bendera-bendera kecil dipasang sepanjang jalan, sementara foto-foto pahlawan ditampilkan sebagai pengingat sejarah di tengah kemeriahan perayaan kemerdekaan.
Konsep tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya.
Pada 2025, warga menggunakan lukisan dengan warna-warni sebagai bagian dari dekorasi. Tahun ini, mereka mengubah pendekatan dengan menghadirkan warna merah putih secara lebih dominan.
Sumarah Tri Suciati, yang akrab disapa Ucik mengatakan perubahan konsep dilakukan karena warga ingin terus menghadirkan inovasi.
Menurutnya, kemeriahan Agustusan tidak harus tampil dengan bentuk yang sama setiap tahun. Ada ruang bagi warga untuk mencoba sesuatu yang baru tanpa meninggalkan semangat kebersamaan.
Dan untuk mewujudkan suasana itu, warga tidak bekerja dalam waktu singkat.
Persiapannya sudah dilakukan sekitar dua bulan sebelumnya. Sedangkan pengerjaan dekorasi dilakukan secara lebih intensif menjelang pelaksanaan kegiatan.
Hampir semua lapisan warga terlibat.
Laki-laki dan perempuan bekerja bersama. Ibu-ibu ikut membantu. Bahkan warga yang sudah lanjut usia juga turut menyengkuyung persiapan sesuai kemampuan mereka.
Supriyati atau biasa disapa Upi, warga setempat yang aktif dalam kegiatan lingkungan, menjadi salah satu bagian dari keterlibatan tersebut.
Bagi warga RT 05, gotong royong bukan sekadar istilah yang sering muncul dalam kegiatan kampung. Ia terlihat dari pekerjaan yang dilakukan bersama, dari membersihkan lingkungan, merawat tanaman, menata fasilitas, hingga memasang dekorasi merah putih.
Karena itu, ketika berjalan menyusuri lorong tersebut, yang terlihat bukan hanya hasil akhir sebuah dekorasi.
Ada kampung yang memang sudah tertata.
Ada taman-taman kecil yang dirawat.
Ada peta lingkungan yang dibuat untuk memudahkan orang.
Ada cermin cembung yang dipasang untuk keselamatan.
Ada CCTV untuk keamanan.
Lalu, menjelang peringatan kemerdekaan, semua itu mendapat tambahan warna merah putih.
Dari jalan besar Kertek menuju arah Temanggung, gapura RT 05 menjadi pintu masuk menuju suasana tersebut. Di sisi kanan, tembok tinggi dan kokoh menjadi salah satu bagian yang mengapit jalan kampung. Di sepanjang lorong, merah putih kemudian mengambil alih pandangan.
Sekitar 100 meter perjalanan itu menjadi semacam etalase kecil kehidupan warga.
Bukan hanya tentang bagaimana sebuah kampung menyambut Agustus, tetapi bagaimana warga menunjukkan bahwa lingkungan tempat mereka tinggal bisa dirawat bersama.
Dan ketika Merah Putih memenuhi lorong, taman-taman tetap hijau, serta warga masih sibuk bergotong royong, suasana Agustusan di RT 05 Campursari terasa bukan sebagai hiasan yang ditempel sementara.
Ia menjadi bagian dari wajah kampung itu sendiri.***
Editor : Agus Hidayat







